27 August 2007

Miss(ed) Nationalism







“Society in every state is a blessing, but government even in its best state is but a necessary evil.
[Thomas Paine, in his pamphlet, titled Common Sense]

Ya, ya. Agni Pratistha memang sudah lama tersisih dari kancah Miss Universe 2006. Dan kita yang mengecam tapi diam-diam mengagumi pun lalu diam-diam pula memendam rasa kecewa. Di latar depan panggung seremonial yang serba resmi, layar digulung, karpet dilipat dan berbagai pejabat dinas terkait bisu seribu bahasa. Kekalahan sudah ditelan, dalam diam dan dalam pahit. Agni pulang tanpa kalungan bunga kemenangan. Malah disambut spanduk dan teriakan para penjaga moral.

Barangkali masih ada yang bersuara bahwa Agni telah berusaha sebaiknya untuk mengharumkan nama bangsa. Astaga. "Mengharumkan nama bangsa" (!). Tiba-tiba saja jargon itu menghembuskan aroma lama berbau nostalgia tentang nasionalisme. Sayang ingatan saya tentang itu tidak jauh dari ruang kelas yang kelabu dengan papan tulis berdebu, di mana ibu guru mencoret-coretkan kapurnya ketika pelajaran PSPB atau PMP. Aroma lama itu tiba-tiba terasa sangit. Saya terpaksa mengaku: bahwa selama ini saya masih berusaha percaya pada narasi agung semacam itu. Antara ingin mengakar pada sesuatu atau cuma menganggapnya sebagai waham. Memangnya makhluk macam apa nasionalisme itu? Apakah ia begitu istimewa? Apakah nasionalisme berkaitan dengan identitas? Budaya? Toh di ajang yang sama pula, identitas nasional itu terkoyak: kontestan Malaysia mengenakan kostum nasional dari etnis yang sama dengan Agni: Dayak! Tiba-tiba kita terhenyak, kaget sekaligus marah, ketika Malaysia mengklaim Dayak juga sebagai identitas nasionalnya. Baru teringat: memang betul bahwa etnis Dayak hidup dan bermukim di minimal dua negara itu.

Nasionalisme Harga Mati
Persoalan itu hanya terendap di ingatanku sampai teraduk kembali beberapa hari yang lalu. Di suatu sore yang berguncang, saya berbincang dengan seorang bapak tua yang tampaknya telah makan asam-garam-gula kehidupan [gulanya lebih banyak, mengingat dia sudah berkecukupan sekarang...] Sepanjang pembicaraan, seperti layaknya seseorang yang has been there, done that, ia menceritakan pengalaman kerja dan hidupnya. Dengan sedikit rasa usil [dan juga rasa sinis bahwa manusia suka pamer diri], saya terus memancingnya bercerita. Di antaranya, pengalamannya menembus hutan-hutan Kalimantan untuk beberapa proyek. Dikatakannya, bahwa etnis Dayak seluruh pulau
termasuk Malaysia— tergabung di bawah kepemimpinan seorang panglima. Bahwa kepentingan etnis mereka ternyata lebih diakomodasi oleh pemerintah Malaysia, sehingga mereka memilih menyelenggarakan pertemuan adat dengan berbondong-bondong pergi ke Malaysia. Bahwa kabarnya pemerintah Malaysia membentuk semacam kementriannya sendiri untuk mengurus etnis Dayak. Bahwa pemerintah Malaysia memperoleh hasil politis yang lebih menguntungkan dengan proses ini. Dan bahwa ternyata Indonesia memang kecolongan lagi...

Waah, betulkah? Tentu saja saya belum bisa mengkonfirmasi kebenaran cerita ini. Butuh pekerjaan wartawan investigasi untuk menyelidikinya. Setahu saya, sejak tahun 1960-an dari awal orde baru, kabarnya etnis Dayak lebih dimanja secara politis di Indonesia ketimbang di Malaysia. Bisa jadi keadaan berbalik sekarang. Boleh saja hingga kini etnis Dayak masih mendapat keistimewaan dalam politik lokal. Tetapi adakah keuntungan politis itu berguna bagi budaya dan adat Dayak? Apa yang bisa kita petik dari kerusuhan memiriskan yang bergolak di tahun ...dan 2001 dulu?

Lalu tiba pada pertanyaan paling krusial: apakah mereka tidak nasionalis?

Saya yang masih berusaha nasionalis disentil dengan kenyataan bahwa nasionalisme kosong kini tidak lagi relevan. Bahkan keterikatan peradaban yang besar pun, plus budayanya, hanya mungkin ada ketika ada proses timbal-balik di antara elemen peradabannya. Mungkin sebuah dialektika yang memungkinkan perkembangan ke depan. Kalau hanya atas nama nasionalisme semata, tetapi tidak memberi kontribusi hidup, untuk apa? Yang ada hanya paham yang jumud, kaku dan mengungkung. Ngerinya, ini yang tercermin di mana-mana lewat retorika semacam NKRI Harga Mati dan sejenisnya. Mengharapkan nasionalisme buta sekarang sama tololnya seperti mengharapkan loyalitas anak tiri kepada ibu tirinya yang kejam. Bedanya, anak tiri tidak lagi meratap sekarang. They simply walk out, or choose to fight. Kasus lama pemberian suaka terhadap separatis Papua oleh Australia seharusnya tidak menyulut sumbu emosi kita [yang seringkali terbukti pendek], tanpa mengingat apa yang sudah dilakukan untuk kesejahteraan saudara-saudara kita di Papua.

Postmodernisme dan Ketiadaan Strategi
Semenjak modernisme ternyata gagal menjadi penyelamat, tercebur kita ke dunia postmodern, berenang-renang dalam ketidakpastian total. Orang menjadi gundah, resah. Dan gerakan kembali ke akar —entah itu agama atau budaya— tiba-tiba menjadi pilihan yang berkilau. Apalagi kalau diingat bahwa gerakan-kembali-ke-akar ini memiliki musuh favorit: globalisasi.

Globalisasi sering terbukti tidak lebih dari “gombalisasi”. Hegemoni negara maju kadung terlalu kuat, dan mereka tidak segan-segan mempertahankannya. Maka fenomena primordial-fundamentalis tampaknya memang tampil sebagai gerakan counter-globalization yang menjanjikan. Khaled Abou el-Fadl, seorang pakar hukum Islam UCLA, mengatakan bahwa fundamentalisme Islam adalah anak haram modernisme [meskipun saya lebih merasa pas menyebutnya "anak tiri"]. Bertahun-tahun, proses yang disebut kemajuan dunia berderap menggilas segala yang menghalangi. Kaum muslim terpinggirkan dalam proses itu, bahkan kerap menjadi korban. Dari situ, muncul anak-yang-tak-diharapkan, yaitu fundamentalisme. Tetapi bukankah modernisme tidak hanya menghasilkan kaum-muslim-yang-terpinggirkan? Tengok saja suku-suku terasing, gerakan berbau primordial, dan lain-lain. Ini menandakan, ternyata anak tiri modernisme ada banyak sekali. Dan fenomena ini menyebar di mana-mana. Anak-anak tiri dunia seolah bangkit berbarengan dan siap meluluhlantakkan segala retorika modernisme yang mengungkung, kebanyakan dengan konsekuensi kehancuran yang tidak mengenakkan.

Apakah dari sini bisa diambil kesimpulan bahwa konsep negara telah gagal? Bahwa nasionalisme telah mati? Tidak juga. Bahkan kalau mengingat pernyataan Ben Anderson bahwa bangsa adalah semata "komunitas yang diimajinasikan", rasanya imajinasi itu acapkali terasa sangat kuat, sehingga banyak yang memilih percaya. Imajinasi itu setidaknya masih bisa dibangun pondasinya dengan negara yang mau mengayomi. Ya, di era yang katanya semakin silang sengkarut dan semakin membaurkan batas-batas bangsa ini, negara masih punya peran. Ia bisa menjadikan elemen-elemen yang telah dimilikinya sebagai pembangun bangsa yang utuh.

Berbicara perihal kebudayaan, sebuah negara selayaknya memiliki rancangan besar strategi kebudayaan. Sayangnya, meski sudah berbusa mulut para orator budaya untuk mengingatkan para pamong, tetap saja negara ini terbilang gagal mengayomi budayanya sendiri. Saya pernah membaca teks luar biasa Hikmat Darmawan bahwa bangsa ini harus membangun kisahnya [yang bahkan negarawan sebodoh George W. Bush menyadarinya]. Saya pernah lagi teringat masalah ini ketika M. Dawam Rahardjo sekali lagi mengingatkan pentingnya strategi kebudayaan dalam orasi kebudayaan di Orasi Budaya yang diselenggarakan oleh Galeri Publik (Institute For Global Justice), di Jakarta, pada tanggal 26 Juli 2007. Tapi lalu apa yang kita saksikan? Birokrat bermental dagang dan haus kekuasaan jangka-pendek. Semakin banyak orang yang hanya peduli pada urusan perut dan di bawah perut, tanpa mau mengingat yang di atas perut dan di atas leher. Jangan semata salahkan Singapura, Malaysia dan Thailand kalau mereka diam-diam merampas dan mengembangkan elemen-elemen asli budaya kita. Kalaupun ada semacam usaha mengayomi budaya, yang kita lihat ternyata parade pamer diri yang justru semakin memalukan, dan beraroma blunder. Apa kata dunia ketika ternyata wajah film-film Indonesia di Cannes diurusi para istri pejabat yang bahkan tidak tahu apa arti "box office"?

Berlalu pula masa ketika birokrat dan budayawan bisa menyadari posisi masing-masing dengan rendah hati. Ketika meresmikan Taman Ismail Marzuki, Gubernur DKi masa itu, Ali Sadikin, mengakui bahwa sebagai birokrat ia tidak paham seni. Namun dengan rendah hati ia menyadari pula pentingnya seni dan kebudayaan bagi perkembangan dan survival sebuah bangsa. Ah. Sebuah sikap yang kini langka. Kapankah akan tercipta lagi ruang gerak bagi birokrat dan budayawan untuk saling mengerti? Kapan ruang gerak itu akan terbebas dari ego mereka yang menggelembung menyesakkan? Sementara itu, budaya suku-suku yang membangun Indonesia dan dinamikanya tetap terpinggirkan sebagai kaum pariah dalam wacana penyelenggaraan negara.

Lalu, apakah Agni dengan mengenakan busana Dayak telah mengharumkan nama bangsa lewat penampilannya? Dengan apa yang terjadi di balik layar, maka saya takut bahwa wajah Agni dengan kostum Dayaknya hanya menjadi representasi yang pucat lagi banal tentang negeri ini. Tidak heran.

© Adrian Syah 2007

[tulisan ini saya persembahkan untuk Indonesia di ulang tahunnya, dan bagi EPC, yang telah merasakan menjadi sripanggung gemerlap kontes kecantikan. Apa kabar, sobat?]

Lanjut...

13 August 2007

That's why I like Mark Twain


I'm not [legally] a Jakartans. Thus I don't vote. But even if I am, I feel apoltical these days. And I found this witty-remark from one of my favourite authors:

"If voting made any difference they wouldn't let us do it."
[Mark Twain]


That's a good one, Mr. Clemens. And for Mr. Bowo: selamat 'bekerja'.

***

Lanjut...

07 August 2007

>> Dagelan Bangsa dalam 3 Stanza <<

[Stanza Uno]
Tersebutlah seorang selebriti
serasa pakar ia menyebut diri
Raden Roy Suryo namanya
mengaku menemukan Indonesia Raya

Dari perpustakaan Leiden Belanda
Padahal dari YouTube ia mengunduh[1]
Katakanlah padaku pakar telematika
di dunia maya siapa memuat lebih dulu

Tersebutlah sekelompok cendekia
Tim Air Putih namanya
Kabar berita tuan Raden menyelia
Padahal simpatisan belaka[2]

Bagaikan para penemu dunia baru
padahal ada yang tinggal sejak dulu
atau bila Edison kehilangan bola lampu
lalu seseorang mengaku sebagai penemu

[Stanza Due]
Tersebutlah seorang pejuang warta
yang dihormati lagi dikagumi
Bapak Des Alwi punya nama
nyatanya beliau empunya lagi punya bukti[3]

Wahai tuan Raden jadi belingsatan
menuduh pejuang punya mau keparat[4]
kenapa tuan Raden jadi berangasan
apa memang maunya menjilat

Dulu pejuang merelakan rekam rupa-rungu
untuk diemong para pamong praja
sayang para pamong teramat dungu
rekam rupa-rungu menguap begitu saja[5]

Para pamong terkini bikin malu
Indonesia Raya lama mengaku tidak tahu
apa guna punya di negara punya tahta
kalau yang di kepala cuma harta


[Stanza Tre]

Langgam usang dunia warta
angguk-angguk tuan Raden punya kata
padahal cuma mau jual diri
dunia warta bisa jual sensasi

Ingat-ingat ajaran bu guru
di mata pelajaran menyanyi
ingat-ingat kami buka buku[6]
ternyata 3 stanza memang basi

Wahai bangsa kerdil lupa diri
Lupa akan semua cerita diri
Yang sudah dianggap tidak usah
Jati diri dianggap tidak basah

Demikian dagelan bangsa amit
yang kalah lucu dari Srimulat
maunya cuma mainan dedemit
dan mainan orang keparat


***

Cukup. Dagelan tidak lucu nan menjijikkan ini harus segera diakhiri. Bagaimana mungkin pembodohan/kebohongan massal sejenis ini bisa dibiarkan melenggang begitu saja? Masalahnya, yang dibohongi baru tahu belakangan bahwa mereka dibohongi. Tidak, ini tidak sepenuhnya salah sang Raden, tentunya. Ini adalah ramuan-sempurna-dengan-kadar-pas dari tiga bahan utama:

  • Seorang selebriti yang merasa diri ahli, haus akan popularitas.
  • Segerombolan nyamuk media yang haus sensasi.
  • Khalayak [publik, pejabat, dan termasuk saya sendiri] yang buta budaya.

Semuanya diaduk dalam satu adonan, menciptakan teater menggelikan bangsa pelupa lagi alpa.

Baiklah, tentunya tidak semua orang punya beban untuk mengetahui sejarah negeri sendiri, bukan? Sayangnya, yang berwenang untuk itu sangat berkompeten untuk tidak melakukannya. Bukan berarti tidak ada segi positif dari kejadian ini. Kita semua seolah dipaksa lagi untuk ingat bahwa lagu kebangsaan kita memang aslinya terdiri dari 3 stanza, dan bahwa ada peraturan yang mengaturnya, dan bahwa…, dan bahwa…, dan lain-lain. Hanya saja, semua itu harus terungkap lewat akrobatik ketololan yang dihiasi klaim-klaim “keaslian”, “kebaruan”, retorika “milik negara” yang motivasinya dipertanyakan, sampai tendensi adanya karakter asinan [character assassination] kepada tim Air Putih [“…tukang kebun!”] dan –bisa-bisanya– ke Des Alwi sendiri.

Saya teringat menonton JiFFest dua tahun yang lalu dalam sebuah sesi berjudul From the Cabinet of Des Alwi. Sehabis menyaksikan pemutaran dokumentasi lawas, Bapak Des Alwi sendiri tampil di depan kami semua sebagai pembicara. Beliau menyampaikan bahwa potongan-potongan klip itu memang kebanyakan tidak bias bercerita sendiri. Banyak yang harus disertai kisah tambahan untuk memperjelas konteksnya. Dan sejauh ini hanya beliau yang mengingat konteks masing-masing klip. Astaga. Saat itu juga, tiba-tiba saya merasa ngeri: bagaimana kalau beliau sudah tiada nanti? Akan lenyap semua kisah di balik dokumentasi berharga itu. Kenapa tidak dikatalogisasi dan dirapikan pengarsipannya? Ha. Apakah kita masih tega mengharapkan lebih dari Bapak Des Alwi ini, yang sudah sebagai single-fighter menjaga klip-klip itu? Yang sudah berperan bagai H.B. Jassin-nya dunia audio visual?

Nah, cukup mengutuk. Apa yang bisa dilakukan? Dukung setiap perjuangan untuk melawan amnesia sejarah. Salah satunya, yang akan dengan senang hati kulakukan, adalah mendukung perjuangan Sinematek Indonesia untuk merawat semua peninggalan audio-visual perfilman Indonesia, dengan tema Menolak Hilang Ingatan. Hmm, betul sekali...

Dan kenapa juga arsip-arsip sepenting ini harus dijaga oleh inisiatif segelintir pejuang berdedikasi tinggi? Apa? Pemerintah? No comment ah...

***

[1] Kabar terakhir menyebutkan bahwa yth. KRMT RS bukan mengunduh dari YouTube, tapi bahkan mengkopi dari harddisk anggota Air Putih.
[2] Muncul klarifikasi dari Tim Air Putih sehubungan dengan pemberitaan media bahwa RS memimpin tim mereka.
[3] Klarifikasi Des Alwi di Metro TV
[4] Semoga bukan gejala character assassination.
[5] Memang sulit mengharap dari pengurus negeri ini.
[6] Dalam sebuah forum, seorang user bernama boo mengkonfirmasi dugaan lawas saya tentang buku kumpulan lagu wajib yang memang berisi 3 stanza sejak lama, antara lain (dikutip sesuai aslinya)

  • Indonesia Persadaku, penyusun W.S. Simajuntak, th terbit cetakan pertama 1984 , kode buku TT. 0016.02.1984 (Februari 1984?) terbitan Titik Terang hal 9 utk yg teks yg diketahui scr umum, hal 10 utk 2 stanza yg laen (cover warna hijau tua, kayanya ini yg umum dipake)
  • Cintaku Negeriku, Kumpulan Lagu Wajib dan Perjuangan, penyusun DS. Soewito M, th terbit gak jelas, cuma ada kode buku : T.T. 0102.04.94 (April ‘94 kah?) terbitan Titik Terang hal 9-12 utk yg teks yg diketahui scr umum, hal 12 utk 2 stanza yg laen (dua edisi, satu edisi cover warna kuning telur, edisi yg lain cover warna biru)
  • Lagu Nasional dan Lagu Daerah, penyusun Joko Susilo, th terbit gak ada, penerbit gak ada hal 3 utk yg teks yg diketahui scr umum, hal 3 utk 2 stanza yg laen


Teriring terima kasih untuk blogger-blogger lain yang turut menyumbang info: ryosaeba, ndorokakung.

Lanjut...

20 July 2007

the emperor(s) has no clothes, indeed.

Here's a blatant illustration:


Two little girls walked along on their way home from school. One of them is well-known as their teacher, Mrs. Smoochy's pet. But she seemed to be good-natured, nevertheless. So her classmates saw nothing harm in befriending her anyway. The teacher' pet started conversation:

"Tell me, is it fun to play on the yard?"
"Why, surely it is! Why?"
"I've been spending too much of my time studying indoors, accompanied by Mrs. Smoochy. I've been wondering..."
"Yes?"
"Is it fun to play with you guys?"
"Of course it is! You have to join us sometimes!"
"Well, I..."
"Come on! It will be fun. You can't study all the time!"

The teacher's pet didn't say anything. The very next day, the girl who was trying to befriend the teacher's pet was grounded. She was told to stand in schoolyard, punished and humiliated for the entire school to see. Her mistake was that "she had been downgrading the value of studying, insulting the teacher's pet, thus insulting teacher's authority". The poor little girl didn't even get to hear the verdicts before her punishment.

It could be an unfortunate true story in a school somewhere. But to be displayed in a prestigious nine-stories building?

Whoa.

So what's the moral of the story, children?

(1) Corporate culture is 1984, revisited.
(2) Drama queens are dangerous.
(3) The emperor(s) has no clothes indeed. But unlike in fairy tales, the real-world emperors wouldn't spare his time being embarassed and questioning when the children pointed out their nakedness. They simply had the kid executed.

[I couldn't come up with a more layered illustration, because the event itself was unbelievably banal]

***

Lanjut...

16 July 2007

In the Mood for Laugh

“Laugh and the world laughs with you. Weep and you weep alone.”

Solitude, a poem by Ella Wheeler Wilcox. Re-stated by Dae-su Oh in Oldboy (Chan-wook Park, 2003) and by The Joker in Arkham Asylum: A Serious House on Serious Earth(*)


Terinspirasi saran seorang kawan, tiba-tiba saja saya tergerak untuk melihat perkembanganku sendiri dalam memaknai tawa. Sebut saja ini Evolusi Tawa. Bagiku, tawa adalah respon alami kita dalam menghadapi kontradiksi yang dibarengi perasaan lega karena melepaskan energi ekspektasi (yang dimentahkan oleh kontradiksi).

Nah, lalu apa saja sih yang membuat kita tertawa? Saya mengajukan pengalaman pribadi sedikit:

[Fase 1]
Usia SD. Ini adalah masa ketika tertawa berarti melihat kekonyolan dan kontradiksi yang terlihat jelas di permukaan. Superficial paradox. Atau bahkan: kebodohan-kebodohan yang begitu nyalang terpampang. Maka diri-usia-SD ini adalah diri yang tertawa ketika melihat humor dan lelucon yang kalau sekarang akan terlihat garing. Misalnya gurauan semacam: "Kamu dicari temenmu..." - "di mana?" - "di bonbin. Haaa-ahahahaha...!!" Garing sekali bukan? Tapi ini saatnya kita belajar mengamati, bahwa ada yang namanya kontradiksi semacam itu, dan itu lucu.

Lalu lelucon slapstick. Slapstick tidak pernah gagal, karena lelucon dengan gerak tubuh tidak memerlukan penalaran panjang-panjang. Yang terlihat saja sudah cukup merupakan pameran kebodohan, ketakterdugaan, dan karenanya: lucu. Sayangnya sementara orang sering meleset memperkirakan kadar kelucuannya sendiri. Lelucon slapstick, ketika ditambah-tambahi efek suara konyol semacam "TWEWEW-WEW..." untuk suara per, "BOING!" untuk suara kepala terbentur, atau "Tukutuk-utuk-utuk..." untuk suara berlari cepat, kerapkali malah menimbulkan kesan merasa-lebih-lucu-dari-seharusnya.

Milestone of my Phase 1: Film-film Warkop DKI; Three Stooges; badut sirkus (dan bukan badut Ancol yang mendekat, dan karenanya menyeramkan...)


[Fase 2]
Usia SMP. Aih, SMP. Bukankan ini masa ketika kita merasa keren, merasa akan bisa berbuat apa saja, merasa...kan segalanya pertama kali? Termasuk soal seks. Bukan, bukan seksnya sendiri. Tapi pengetahuan soal seks umumnya menjadi sesuatu yang SANGAT menarik bagi diri-usia-SMP [meskipun sebetulnya saya udah sejak SD. Ew]. Dan lagi, bukankah seks, di masyarakat kita, masih merupakan hal yang tabu dibicarakan secara umum? Tentu saja ketertutupan semacam ini membuat humor dan lelucon seks, atau setidaknya yang "menjurus", membuat minat kita semakin menjadi-jadi. Apa yang sangat ditutup, ketika diintip sedikit, jadilah ia sesuatu yang mengejutkan, dan...lucu. [Sedihnya, beberapa oknum orang dewasa tak bertanggung jawab sering menyodokkan lelucon-lelucon seks ke wilayah usia SD dan merasa keren karenanya...]

Lelucon slapstick masih mendapat tempat di hati di masa SMP ini, tapi mungkin sudah lebih advanced. Kita mengharapkan sesuatu yang lebih "dalam", meskipun sering masih terbingung-bingung, apa sesuatu yang lebih "dalam" itu.

Milestones of my Phase 2: The Gods Must be Crazy; Srimulat; lelucon saru dan jorok.


[Fase 3]
Usia SMA, dan awal perkuliahan. Ow, adakah masa yang lebih indah dari usia SMA?
[Ada, sih...] Inilah waktunya kita berbuat segalanya! Berkarya, berekspresi, dan ber-ber... lainnya. Apalagi ketika lulus SMA dan merasa dewasa ketika telah memasuki jenjang kuliah. Kita telah mencicipi sedikit apa yang dinamakan "hidup", dan mulai bisa mencermati segala paradoks dan kelucuannya. Maka ini saatnya untuk humor yang bisa membuat kita sedikit berpikir. Namun karena masih tahap "mencicipi", kelucuan kerap hadir lewat orang lain. Kita masih dalam tahap diajari, misalnya lewat acara humor [yang sehat, tentunya, tidak sekedar slapstick...] semacam sitkom. Di masa SMA juga saya belajar tentang humor yang timbul dari quick-wittiness. One-line-joke semacam ini adalah latihan yang bagus untuk humor yang cerdas. Biasanya berbentuk respon cepat dan sekilas asbun, tapi penuh kejelian, dan lagi-lagi tidak terduga. Dan karenanya: lucu.

Tapi kalau slapstick, kenapa tidak? Slapstick adalah dasarnya komedi, dan tidak akan pernah lekang oleh waktu. Slapstick tetap saya hormati. Hanya saja, saya juga menghormati masa SD sebagai Sekolah yang Dasar. Lalu apakah kita akan terus berkutat di slapstick? Apakah kita akan selalu di SD?

Milestones of my Phase 3: Sitkom, seperti Friends dan Seinfeld; masih Srimulat.


[Fase 4]
Usia twenty-something. Wah, apa mau dikata? Ini adalah masa ketika kita sendiri yang tercebur langsung di ironi kehidupan [aiyaa...].
Setelah lama menertawakan ketololan dan ironi orang lain, ini saatnya kita menertawakan diri sendiri. Terdengar pahit, ya? Tapi kalau kita bisa memandang kehidupan kita sendiri sebagai sesuatu yang lucu, setidaknya ada semacam katarsis, dan tidak perlu berkerut kening memikirkan beban hidup. Saya berani bilang bahwa ini masa terdewasa dalam berhumor, karena yang berusia lebih tua pun yang bisa mereka lakukan kurang lebih sama: menertawakan perjalanan hidup mereka sendiri. [Atau kalau ada koreksi...?]

Sayang, banyak sekali yang gagal memasuki fase ini. Mereka acapkali menjebak diri dalam kemarahan dan memarahi orang lain yang berani-beraninya tertawa. Contoh paling mudah: bangsa kita. Dulu memang ada masanya ketika kita masih bisa menertawakan diri sendiri, misalnya lewat dagelan Mataraman yang menertawakan kegagapan diri dan masyarakat. Tapi alangkah sial, struktur feodal masyarakat kita membuat kedewasaan semacam itu ternyata hanya ada di golongan orang kecil dan pariah yang terpinggirkan. Kini, kita menjadi sebuah bangsa penuh paradoks, yang seharusnya lucu, tapi malah marah-marah kalau ditertawakan. Semakin lucu saja bukan?

Akibat dari ketidakdewasaan dalam berhumor sudah jelas: masih saja melarikan diri ke lelucon seks dan slapstick. Perhatikan saja hampir di seluruh industri media kita. Kalau ada yang berusaha cerdas sedikit, jadilah ia momok, dan rating pasti turun. Hiii.

Milestones of my Phase 4: Standup comedians; Republik Mimpi and the likes; Monty Phytons; English "dry" humor and everything that said "reality bites".

Begitulah. Kalau ada yang mengamati bahwa saya melewatkan satu unsur penting humor, Anda benar. Saya sengaja melewatkan "humor celaan". Sebetulnya bisa jadi humor-celaan ini adalah bagian kecil dari humor yang memamerkan ketololan [misalnya Dumb and Dumber, Srimulat...]. Tapi bedanya, ia dengan sengaja menegaskan superioritas seseorang atas yang lain. Bagi saya itu humor yang paling tidak berharga, karena secara inheren bersifat merendahkan. Belum lagi yang paling jahatnya, kalau bersifat fisik. Meski bukan termasuk orang yang selalu dicela, dulu saya sempat termasuk golongan yang ikut mencela. Dan rasa bersalah itu tidak pernah hilang.

Sedikit bicara agama, tidak heran kalau Nabi paling membenci humor semacam ini. Ha. Saya sendiri mungkin bukan pengikut Nabi yang baik, tapi setidaknya: saya cowok yang sensitif. Aw.

Eh, tapi ada pengamatan yang lain mungkin?

***

(*)Actually, The Joker hanya mengucapkan bagian pertamanya. Namanya juga psikopat...

[Thanks to mistymind. Posting ini ditulis dalam mood ketika saya bisa tertawa terbahak-bahak oleh gurauan level SD. Tampaknya lagi regression mode, dan sedang parah-parahnya...:)]


***

Lanjut...

14 July 2007

Self-destructing Homo ironia

"On the subway today, a man came up to me to start a conversation. He made small talk, a lonely man talking about the weather and other things. I tried to be pleasant and accommodating, but my head hurt from his banality. I almost didn't notice it had happened, but I suddenly threw up all over him. He was not pleased, and I couldn't stop laughing."

—John Doe's journal in Seven (David Fincher, USA, 1995)

Never tell a same joke twice.
Never tell a same joke twice.
Never tell a same joke twice!
and more importantly...,

Never tell a lame joke twi..., even once!

: I guess that basic rule won't even stick in the goddam heads of those so-called educated men. And I wouldn't care if only you're the only ones who got castrated from it. But, no. We're being dragged here.

Do mankind a favor, please. Stop swimming in your own cement.


***

Lanjut...

05 July 2007

"...We're the all-singing, all-dancing crap of the world."

"I am just trying to get home to my little girl's birthday party and if everyone will just stay out of my way, nobody will get hurt."
—Bill "D'Fens" Foster, Falling Down (Joel Schumacher, 1993)

In our pursuit of happiness and wealth, there are always times when interests collide, due to carelessness, inherent mismanagement, or just plain, basic stupidity. It's a tragedy once pointed out by Hannah Arendt, that a mass society is doomed to live not in a common room, or a public space, where everything is SHARED. Instead, we live in a COMPETED space. Everybody for itself. So when there's a collision (even in a so-called common interest), every party then rolls up their sleeves to fight for their so-called "rights".

Biasanya, saya lebih suka mengalah kalau berhadapan dengan perkara yang seimbang, sepanjang tidak merugikan. "Sing waras ngalah...", kata orang-orang di kampung. Bahkan, sebegitu baiknya saya (sok iye banget!), kerap timbul pikiran: jangan-jangan aku terdoktrin sinetron-sinetron maha bodoh itu, untuk selalu pasrah dan menangis saja kalau dizalimi orang. Celaka. Bagaimana kalau benar begitu? Hinaan Ambar di 3 Hari untuk Selamanya pun akan masih terdengar ringan: "lo itu cowok! Marah dikit napa?" Aduh, aduh. Kalau hinaan itu kedengaran ringan, berarti saya bahkan bukan cowok dong! Apa kata dunia?

Untunglah ("untung"? Lho, kok saya tidak begitu yakin...?), di beberapa kesempatan terbukti bahwa garis batasku ternyata tegas. Ketika hak jelas-jelas sudah dilanggar, tentu saja saya bisa sangat menyebalkan bagi mereka. Tentunya ini persoalan dosis yang tepat. Kadang, miris juga ketika melihat seorang rekan memarahi pelayan atau another unlucky frontman lainnya. Kalau sudah kejadian, buat apa marah-marah? Yang pasti akan kulakukan: berusaha menahan diri, lalu mencari solusinya, dengan melibatkan mereka, tentu saja. Hanya saja, sering kejadiannya begini: pertama-tama, yang terdengar hanya kalimat-kalimat pembelaan diri. Lalu berubah jadi pengalihan tanggung jawab, lalu lama kelamaan kalimat-kalimat itu tidak terdengar sama sekali. Hanya gerundelan yang mengganggu kuping lebih dari dengungan sekawanan lebah mandul. Brengsek. Kalau sudah begini jelas saya tidak mau mengalah lagi. Enak saja. Memangnya solusi hanya bisa direbut dengan urat yang menegang lebih dulu, ya?

Ternyata, batasku jelas: ada atau tidaknya usaha untuk mencari solusi.

Tetap saja, solusi yang direbut dengan cara seperti itu kerap membuatku tidak enak hati. Karena di dunia-nan-kejam sana berlaku aturan yang kadung ditaati:

Ketika perkaranya seimbang, yang lebih dulu menggertak biasanya mendapat angin.
Ketika perkaranya tidak seimbang, yang lebih lemah posisinya tapi menggertak duluan, biasanya..., dianggap tidak tahu diri. Tapi seringkali tetap menang.(Apa? Tidak adil? Memang. Silakan ngambek di pojokan)
Ketika perkaranya tidak seimbang, yang lebih kuat posisinya seharusnya tidak perlu menggertak, bukan? Salah. Ternyata tetap harus ada gertakan. Dan rasanya itu buang-buang enerji saja.

Ugh, betapa aku tidak ingin memulai hari dengan marah-marah.

Post-scriptum: kalau mau uji kesabaran, sering-sering saja berurusan dengan kantor yang ada tulisan "KANTOR DINAS" atau "PEMERINTAH" di papan namanya tanpa membawa uang lebih.

***

Lanjut...