27 November 2006

Last Week Repo(r)t

Looking back to the last seven (all right, eight) days I’ve been through, still, I’m questioning: how can a man’s life fit in a 3-act-structure?

[SUN’S DAY]
Exhausted. That’s it. If I insist to arrange MY life into a three-act-structure, maybe I can conclude this last weekend as Act 2. So that makes today as the beginning of Act 3.
Noo, not that I’m ready to end my life, silly. Let’s just say…, I’m ready for the next big SEQUEL. Wish me luck.

[MOON’S DAY]
Breaking somebody’s heart means to break oneself’s heart. Learned it hard way. But lesson learned, nevertheless. And, what do you know, after that, we both smile.

[TWIST DAY]
He lied again. He lied without blinking. I wish I can be as good as you, in lying. But I can’t. Now I won’t. You’re good. But not that good.

[WODEN’S DAY]
Catching a fever. Sitting in a room without images. Breathing in man-made air. Surrounded by fellow licensed jesters. Repetitive dinner menu. And Nat King Cole sings, “In a restless world like this is. Love is ended before it's begun…

Shit. I don’t have to remember THAT.

[THIRST DAY]
Riding in a roller-coaster called Moody Ride. Click-ety-click. It’s riding up. A story about a loser who got lucky with his sole dedication. Funny how life’s treating people, even to those who doesn’t appreciate it.

Raindrops on roses and whiskers on kittens
Bright copper kettles and warm woolen mittens
Brown paper packages tied up with strings
These are a few of my favorite things

Cream colored ponies and crisp apple strudels
Doorbells and sleigh bells and schnitzel with noodles
Wild geese that fly with the moon on their wings
These are a few of my favorite things

Girls in white dresses with blue satin sashes
Snowflakes that stay on my nose and eyelashes
Silver white winters that melt into springs
These are a few of my favorite things

When the dog bites
When the bee stings
When I'm feeling sad
I simply remember my favorite things
And then I don't feel so bad
("My Favorite Things", written by Richard Rodgers and Oscar Hammerstein II)

Whoosh. Then it gets you down. Another message guaranteed to get you depressed. Then yet another message. And another one. And another one. Shit.

How about TV? A stupid flick about a dog who can outrun anybody in soccer. Yeah, right. Why don’t they make up a story about a monkey who can play hockey? Oh, they did it already. I forgot.

[FIRE DAY]
We ride up again. Woo-hoo. A chance to expand your view. Then we ride down again. Quick! Put on your best mask! Make sure it’s your 100% genuine mask.

What do we have here? The Fixer, by Joe Sacco. I wish I can fix my wallet first. Then Gemma Bovery, by Posy Simmonds. God. I hope I’m not as desperate as she is. Next, House of Glass by Paul Auster. Obsession. Scary thing.

This week. Two more reasons. Two more considerations.

Dropped off in front of the building. Some guy behind felt that he had all the rights in the world. So he honked. Easy, tough guy. Two more honks. It tempted us only to go even slower. Ha. I looked him in the eyes. He looked back. We’ll meet again, sucker.

In front of the elevator. Rushing to get in. Too late. The doors slides shut. And there was somebody in there who doesn’t give a shit.

[SATYR DAY]
Crap. 80% of my decision-making-process today depends on whether I have a computer or not, with a certain software. Maybe I should set up a computer-idol at home and start worshipping it. It’s far easier. Arguably, with a same dose of sin. Haha.

Cheer up, pal. Your next big sequel may start from this moment.

[SUN’S DAY]
(it’s raining, and we sat on a grey bench)
+ You’ll never change, won’t you? How can I assure you that there is such a thing called H-E-L-P?
(no answer)
+ A word of warning: keep up like this, in the end, there will be only one person left pitying you. Yourself. And by that time, you know what loneliness is.
(still no answer. Then I'm not sure whether she's there or not. I hope I'm not talking to myself)

***

Lanjut...

26 November 2006

Tuhan yang Lalai dan Manusia yang Rewel

Setelah memulihkan diri dari shock-therapy berupa hilangnya laptop dan harddisk, rasanya nggak ketahan untuk mengaduk-aduk file-file lama yang masih tersisa, di harddisk yang masih ada tentunya. Dan saya menemukan ini. Yah, it's about an old movie. But I just feel like to post it again. Because, I believe the movie itself is timeless. A breakthrough in sci-fi genre. A masterpiece. And a flop.

Tuhan yang Lalai dan Manusia yang Rewel

B
atty: Six! Seven! Go to Hell or go to Heaven!
Deckard: Go to Hell!
Batty: That'
s the spirit.

[Blade Runner, Rid
ley Scott, USA, 1982]

Umpama saja Anda mengetahui persis keberadaan Tuhan: Dia adalah seorang tua jenius yang telah menciptakan Anda, tinggal di sebuah bukit yang tinggi, nyaris tak tergapai, sementara Anda dinistakan di bawah, di dunia yang kelam lengkap dengan segala kebusukannya. Lebih buruk lagi, Anda diberitahu bahwa Anda akan mati tanpa kejelasan arah sesudahnya. Tidakkah kemudian Anda berkeinginan untuk memberontak kepada Tuhan, atau Siapapun-Di-Atas-Sana yang dengan soknya menciptakan Anda kemudian menelantarkannya begitu saja?

Manusia memang unik. Dengan kualitas ketuhanan yang diturunkan kepadanya, manusia adalah satu-satunya spesies yang berpotensi berbuat apa saja dengan kesadaran penuh. Di satu sisi, bila ia lupa akan keterbatasannya, ia akan berlaku sok kuasa terhadap apa yang ia kira bisa dikuasainya. Pada jalur lain yang tak kalah destruktif, bila manusia berpandangan negatif terhadap kekuasaan-Nya, ia menjelma menjadi makhluk pemberontak yang dalam ketidakberdayaannya hanya bisa menyangkal keberadaan Tuhan,...atau Siapapun-Di-Atas-Sana. Sungguh suatu kerewelan yang luar biasa. Tetapi itulah salah satu ciri khas manusia.


Lewat Blade Runner, sutradara Ridley Scott menyuguhkan gambaran yang ekstrim tentang “manusia” melawan “Tuhan”. Bersetting tidak jauh di masa depan, digambarkan bumi telah menjadi tempat yang terbuang, kelam dan dihuni oleh manusia kasta rendah yang tidak mampu hidup secara mewah di koloni luar angkasa (off-world), kecuali beberapa manusia beruntung yang memang memilih untuk tetap di bumi, mungkin untuk menistakan yang lainnya.


Di masa itu manusia telah berhasil menciptakan replicants, yaitu manusia tiruan yang dimodifikasi secara genetis menuju kesempurnaan. Mereka dirancang untuk melakukan pekerjaan kasar yang dirasa berbahaya bagi manusia, dan direkayasa supaya tidak memiliki perasaan dan emosi. Tetapi, kenyataan bahwa mereka adalah makhluk biologis (hasil kloning yang disempurnakan?) membuat mereka mampu mengembangkan sendiri emosinya. Oleh karena itu, sebagai tindakan preventif, mereka dirancang untuk hanya mampu hidup maksimal empat tahun.


Roy Batty (Rutger Hauer), seorang replicant generasi terbaru tidak dapat menerima kenyataan ini. Ia memberontak. Dibantu beberapa temannya, dalam kemarahan dan ketakutan-bawah-sadarnya akan kematian, ia kembali ke bumi untuk mengkonfrontasi penciptanya, sang Bapa yang telah menelantarkannya dalam kehinaan, Dr. Eldon Tyrell (Joe Turkel).


Sementara itu di bumi, di mana replicants dinyatakan ilegal, terdapat sekelompok pemburu yang dilatih khusus untuk membinasakan replicants (eufemismenya: memberhentikan), dinamakan blade runner. Rick Deckard (Harrison Ford), seorang blade runner veteran terpaksa ditugaskan kembali untuk memburu Roy Batty dan kawan-kawannya. Dalam penyelidikannya, ia bertemu Rachael (Sean Young), seorang replicant generasi terakhir yang –tidak seperti yang lain– diberi memori sehingga seolah-olah ia telah menjalani hidupnya secara utuh dan mengalami masa kecil. Adanya memori palsu dalam diri Rachael membuatnya tidak menyadari bahwa ia seorang replicant.


Blade Runner adalah pencapaian tata visual artistik yang luar biasa oleh Ridley Scott. Dengan bahasa visual yang simbolik, ia menyuguhkan sebuah dunia yang telah usang, terdegradasi dan menyesakkan. Dengan mengatur supaya hanya polisi yang memiliki kendaraan terbang, ia membuat kesan sebuah masyarakat yang terus diawasi oleh “yang-di-atas”. Dengan menciptakan gedung Tyrell Corporation (perusahaan milik Dr. Eldon Tyrell) menjulang tinggi mirip piramida Maya Kuno, ia membuat kesan adanya “kekuasaan tuhan” yang dilimpahkan kepada Dr. Tyrell. Dengan memilih arsitektur art deco raksasa sebagai interior kantor polisi, ia memberi kesan adanya unsur neo-fasis yang bersifat diktator di sana (seperti halnya rancangan-rancangan gigantis art deco yang dibuat Albert Speer untuk Hitler).


Melalui mata seorang Rick Deckard, plot cerita sesungguhnya menyuguhkan perjalanan emosi Roy Batty yang semula berupa binatang-berakal yang ketakutan, marah dan agresif menjadi seorang “manusia” yang mampu berempati, mampu merasakan hidup dan mensyukurinya. Sungguh suatu ironi bahwa ia harus menjalaninya lewat cara-cara yang penuh kekerasan, bahkan mengkonfrontasi “tuhannya”. Ironi lain hadir ketika empati seorang replicant tumbuh, tes Voigt-Kampff yang dilakukan oleh para blade runner menjadi tidak valid. Dalam dunia para blade runner, tes Voigt-Kampff adalah tes yang terdiri dari serangkaian pertanyaan untuk menentukan kadar empati seseorang melalui analisa jawaban, bahasa tubuh dan reaksi-reaksi biologis lainnya. Dari situ, seorang blade runner menentukan apakah orang yang diwawancarainya replicant atau manusia.


Ketidakvalidan tes Voigt-Kampff menjadi komplit ketika hadir Rachael, replicant yang oleh penciptanya sengaja diberi memori masa kecil palsu sebagai bantalan emosi yang pada gilirannya membuat kejiwaannya lebih stabil. Hal ini menyodorkan pertanyaan baru yang menggelitik: ketika memori palsu itu membuat Rachael yakin dirinya manusia, apa yang membuat kita para manusia tulen yakin bahwa apa yang ada di dalam memori kita benar-benar terjadi? Dan ketika Roy Batty, yang tidak memiliki landasan memori itu –oleh karenanya merasa marah dan ketakutan– dapat mengembangkan empatinya, apa yang membuat manusia menjadi manusia, kalau begitu? Jawabannya mungkin: empati. Melalui empati, berkembanglah kemampuan mengasihi yang menentukan kualitas diri kita sebagai manusia, tidak peduli lahir dari rahim ibu atau dari tabung kriogenik sekalipun. Empati adalah kutub lain dari kualitas manusia yang berada di ujung ekstrim lainnya: berakal, buta hati dan ingin menguasai.


Ketika kita menyadari potensi yang ada di dalam manusia untuk memanusiakan dirinya, mungkin gambaran lain yang disodorkan lewat film ini patut kita renungkan. Ada dua sosok tuhan dalam film ini: Dr. Eldon Tyrell, yang dengan kuasa dan kesombongannya menciptakan replicants untuk kemudian dipekerjakan dan “dibuang” ke dunia yang keras dan kotor, kemudian berbangga diri akan ciptaannya. Yang lain adalah J.F. Sebastian, asisten Dr. Tyrell yang menciptakan mainan-mainan jenaka sebagai temannya, di mana kemudian ia sangat mengasihi mereka, selalu merawatnya, selalu berperan ketika ada sesuatu yang salah atau rusak. Andaikata kita disodori pilihan akan dua sosok tuhan seperti itu, mungkin kita akan dengan mudah memilih yang kedua. Tetapi, apakah manusia serendah itu? Apakah manusia tidak lebih dari ciptaan-ciptaan rewel yang harus selalu “direparasi” oleh tuhannya, tanpa ikhtiar? Mungkin manusia memang harus menemukan jalannya sendiri, untuk memanusiakan dirinya, meski harus melalui tetesan-tetesan darah, seperti yang telah kita saksikan dalam ribuan tahun sejarah umat manusia.

© Adrian Syah 2001

Lanjut...

21 November 2006

Hanya Sekedar Alasan…

Ada-ada saja. Setelah bertahun-tahun, katanya, Tuan S mengaku menemukan rahasia tentang apa yang ada di dalam kepalanya tanpa harus memecah batoknya. Padahal saya tahu persis, dia cuma takut kalau harus menghadapi kenyataan bahwa batok kepalanya ternyata tidak berisi.

Dia mengklaim, setelah mencari-cari di dalam berbagai manuskrip kuno, mulai dari naskah-naskah berbagai ordo biara abad pertengahan, surat-surat J.R.R. Tolkien (hah? Kuno?) sampai Naskah Laut Mati (yang anehnya bertanggal tahun Masehi dan ada stempel kelurahannya), ia menemukan bahwa di dalam kepalanya hidup beberapa makhluk kecil. Homunculi, katanya. Memangnya pengertian homunculus sesuai dengan apa yang dia maksud? Tidak, dia sengaja menamakannya begitu karena tidak menemukan nama yang lebih sesuai. Oh, alasan lagi. Baiklah, kita lihat apa bualannya setelah ini.

Katanya, selama ini homunculus-homunculus itu hidup dengan kepribadian dan mindset masing-masing, sehingga membuat pikirannya tertarik ke mana-mana. Dan dia kelelahan harus meladeni makhluk-makhluk menjengkelkan itu. Sama, Tuan S. Saya sendiri jengkel harus meladeni Anda. Jadi, lanjutnya, Homunculus A berpendapat bahwa yang ini seharusnya begini, Homunculus B berpendapat sebaiknya jangan begitu, sementara Homunculus C malah punya keasyikan sendiri, memilin-milin ujung bantal dan menghitungi cotton buds yang membuat wajahnya mesum setiap kali digunakan untuk mengorek telinga. Homunculus D malah sibuk merindukan bulan. Hmm, mungkin yang satu ini namanya “Pungguk”. Dan masih banyak lagi.

Tuan S lalu merasa jenius dengan idenya yang berbau-bau Darwinisme sosial: ia akan mengunci semua Homunculus itu dalam ruang tertutup (lho, memangnya apa yang lebih tertutup dari batok kepalanya sendiri?) lalu membiarkan mereka saling berkompetisi. Kalau perlu saling membunuh. Survival of the fittest. Survival of the strongest. Survival of the luckiest. Aneh, saya sih lebih suka kalau dia memasukkan kriteria survival of the funniest. Kayaknya dia malah ngeper. Dia bilang, being funny kompetisinya jauh lebih kejam. Dasar pengecut.

Ia lalu memaksa saya mengajarinya membuat blog untuk arena bertanding para homunculus-nya. Baiklah, baiklah. Lalu apa outcome yang diharapkan nantinya? Dia berharap, homunculus yang tersisa menunjukkan jati dirinya yang sejati. (Aduhh, hare gene ngomong jati diri? What are you, fifteen? I guess so, katanya. Wah, saya nggak bisa berkata-kata lagi). Lalu dia juga sudah mengantisipasi berbagai kemungkinan:

  • Pertama, yang tersisa hanya beberapa homunculus yang paling tangguh, lalu mereka bekerjasama untuk menjalankan isi kepala Tuan S tanpa harus bikin pusing lagi. Bergotong-royong, seperti selalu dianjurkan Pak Kontak di “Kontak Tani” dan Pak Kades di “Si Unyil”. (Juga oleh Pak Harto di “Indonesia”)
  • Kedua, yang tersisa hanya satu homunculus, menjadikan Tuan S sebagai orang satu-dimensi. Clearly, this one is not too preferrable.
  • Ketiga, para homunculus nyadar bahwa mereka diperalat tuan rumahnya, lalu bergabung melakukan revolusi-kaum-tertindas untuk melawan tuan rumah yang tiran. Setelah itu mengadakan manifesto, baru berlanjut saling membunuh atas kemauan sendiri.

Cuma tiga ini saja? Tanya saya. Memangnya apa lagi? Bagaimana kalau ternyata tidak ada homunculus yang tersisa? Nah, itu baru masalah. Ternyata, there is no real Mr. S. Haha, dia ketakutan saya todong dengan pertanyaan begitu. Tapi biarlah. Kita liat aja apa maunya. Sebelum pergi, dia bilang sebetulnya ingin sekali menunjuk ke homunculus-homunculus itu dengan gaya Donald Trump, sambil berujar, “you’re fired!” Ohh, please deh. Pasti homunculus “Pungguk” yang baru saja bicara.

So, for better or for worse, this so-called-online-journal is LAUNCHED! Horeee, prok-prok-prok. Gunting pita. Pecahin champagne-nya. Diminum sampai mabok.

(Setelah sadar dari maboknya, baru nanti dia liat, nggak ada yang hadir di peresmiannya. Haha. Kasihan.)

***

Post Scriptum, atawa Nota Bene: siang tadi saya memergoki Tuan S sedang tidur di sofa. Diam-diam saya ingin melihat sendiri seperti apa isi batok kepalanya. Untuk persiapan, saya sudah membawa martil dan adonan semen putih untuk menyatukannya lagi nanti. Kepalanya kurasai, untuk memutuskan treatment yang tepat. Ah, ini sih nggak perlu semen putih untuk menyatukannya. Lem kantor pos juga sudah cukup.

Setelah saya sibak rambutnya, ternyata batok kepalanya bahkan tidak perlu dipecahkan. Dasar penipu. Ada engselnya! Dan bahkan kuncinya hanya menggunakan kombinasi nomor tiga angka seperti koper merk “President”. Saya tau persis bagaimana membongkarnya.

(Proses pembobolan mekanisme kunci sengaja tidak dibeberkan di sini, takut ditiru untuk tujuan kejahatan lain. Kalau mau yang lebih canggih, baca aja The Anarchist Cookbook. Hey, you didn’t hear this from me!)

Setelah berhasil terbuka, alangkah terkejutnya saya. Ternyata homunculus-homunculus itu memang benar adanya. Tetapi mereka tidak sedang saling membunuh. Mereka semua malah asyik mengganja. Alamak. Cape dehh...!


Lanjut...