>> yang cuma-cuma. lalu percuma. dan cuma itu <<
“...Game we're playing is life...”
Pesta ini tidak akan pernah sama lagi. Di ruangan ini, mereka bilang cinta diberikan secara cuma-cuma. Tapi seperti tai burung, cinta dibiarkan tercecer, lalu membagikan bau sengaknya. Derai-derai tawa kini terdengar seperti dengungan ribuan lebah pembunuh. Yang saya tahu, saya tidak bisa berlama-lama di sini. Jadi lebih baik nikmati saja. Nikmati saja, bung! Oh, di meja sana. Seorang gadis muda menjadi pusat perhatian. Kami berkenalan. Cinderella, namanya. Nama belakangmu siapa, manis? Complex?
[“Bachelorette”, Björk. 1997]
“Misery loves company,” bisik Harvey Pekar melalui pita suaranya yang hampir putus. Kemudian ia membuat kekacauan di sebuah acara talkshow. Haha. Di tengah gemuruh pesta, di balik senyum-senyum karet dan hidangan berbau tengik yang dihangatkan lagi.
Apa arti semua ini? Dari semua jenis anugerah yang bisa disyukuri. Segenap perhatian yang tak kunjung berarti. Dan bahwa ketulusan ternyata hanya sepotong kata yang terserak di pojok berdebu. Bah. Bah. Sekali lagi, BAH! Betapa kurun waktu hanya dua minggu mampu membuat isi gelas itu keruh lagi.
Kali ini saya muak. Saya tidak mau lagi menyalahkan bajingan berwajah muram itu, dengan jenggot dan cambangnya yang tak pernah tercukur rapi. Kali ini saya menyalahkan KAMU! Ya, kamu. Saya belum pernah menyalahkan siapa pun sebelumnya. Kemajuan, bukan?
Terima kasih, para pengacau. Anda semua memberiku ide. Saya lalu mengangkat gelas. Mohon perhatian, semuanya! Ijinkan saya bersulang untuk kita semua. ReH nay'meylIjyIn Dujablu'jaj! Teriakku. Dan semuanya bengong. Tapi saya tau persis, dalam keadaan setengah mabok, mereka akan menganggapnya lucu. Lalu tertawa keras, membalas toast-ku dalam berbagai bahasa: Cheers! Proost! Op uw gezonheid! Ze vashe zdorovie! Selamat minum! Tentu saja tidak ada yang mengerti yang kukatakan tadi. Dalam bahasa Klingon, toast-ku berarti, “May your dishes always be served alive!" Yeah. Alive! Bukankah itu yang selalu kalian inginkan?
Akhirnya lonceng berdentang. Belum selesai, tapi pasti akan berbunyi dua belas kali. Tengkukku mendingin. Ini saatnya meninggalkan pesta. Buru-buru kutaruh gelas, lalu menabrak bahu-bahu dan wajah-wajah yang kebingungan, yang tidak peduli, atau yang tertawa-tawa. Di tangga istana, saya ternyata berlari berbarengan dengan Cinderella, terburu-buru. Apakah ia pun tersentak oleh peringatan Sang Kala? Aih. Sepatunya tercecer satu. Matanya memancarkan rasa cemas. Mungkin untuk ketulusan yang masih ia ragukan. Atau ketakutan atas rasa cemas itu sendiri. Atau keraguan yang menunda kehidupan selama beberapa abad.
Anak tangga terbawah. Di depan mataku, Cinderella malang kembali menjadi gadis kampung yang ketakutan. Hoho. Pemandangan ini terlalu berharga untuk dilewatkan.
Lari, Cinderella! Lari!
Kembalilah ke persembunyianmu! Kembalilah ke ibu tirimu, Drizella-mu, Anastasia-mu. Kamu akan disekap di sana, diperbudak, dinistakan. Tapi kamu akan AMAN di sana. Dengar? A-M-A-N!
Ahh. Sial. Saya terlalu asyik memperhatikan Cinderella yang ketakutan tadi. Lupa bahwa saya pun berkepentingan untuk segera pergi dari situ. Terlambat. Tapi sudahlah. Berdiri tegak di atas keempat kakimu, kawan! Kini saatnya untuk pergi, kembali ke habitat. Tunggu. Sepatu kaca itu.
Musik di ruang pesta berganti. The Delgados memainkan lagunya, sebuah pastiche dari karya The Beatles. Alun Woodward bernyanyi dengan ceria, seperti anak kecil yang berlarian di padang rumput musim panas:We kicked and punched and stabbed to death
Ahh, indahnya. Sepatu itu akan kusimpan sebagai kenangan. Lalu tidak seorang pangeran pun akan berpikir untuk mencari putri yang malang itu. Selamat tinggal, Cinderella! Semoga Pangeran Tampan akan menemukanmu. Meskipun saat itu kau sudah busuk dan berulat.
And everyone applauded my fine actions I was overcome
You ask me what I’ve seen
Hate is all I’ve seen
-S
