05 July 2007

"...We're the all-singing, all-dancing crap of the world."

"I am just trying to get home to my little girl's birthday party and if everyone will just stay out of my way, nobody will get hurt."
—Bill "D'Fens" Foster, Falling Down (Joel Schumacher, 1993)

In our pursuit of happiness and wealth, there are always times when interests collide, due to carelessness, inherent mismanagement, or just plain, basic stupidity. It's a tragedy once pointed out by Hannah Arendt, that a mass society is doomed to live not in a common room, or a public space, where everything is SHARED. Instead, we live in a COMPETED space. Everybody for itself. So when there's a collision (even in a so-called common interest), every party then rolls up their sleeves to fight for their so-called "rights".

Biasanya, saya lebih suka mengalah kalau berhadapan dengan perkara yang seimbang, sepanjang tidak merugikan. "Sing waras ngalah...", kata orang-orang di kampung. Bahkan, sebegitu baiknya saya (sok iye banget!), kerap timbul pikiran: jangan-jangan aku terdoktrin sinetron-sinetron maha bodoh itu, untuk selalu pasrah dan menangis saja kalau dizalimi orang. Celaka. Bagaimana kalau benar begitu? Hinaan Ambar di 3 Hari untuk Selamanya pun akan masih terdengar ringan: "lo itu cowok! Marah dikit napa?" Aduh, aduh. Kalau hinaan itu kedengaran ringan, berarti saya bahkan bukan cowok dong! Apa kata dunia?

Untunglah ("untung"? Lho, kok saya tidak begitu yakin...?), di beberapa kesempatan terbukti bahwa garis batasku ternyata tegas. Ketika hak jelas-jelas sudah dilanggar, tentu saja saya bisa sangat menyebalkan bagi mereka. Tentunya ini persoalan dosis yang tepat. Kadang, miris juga ketika melihat seorang rekan memarahi pelayan atau another unlucky frontman lainnya. Kalau sudah kejadian, buat apa marah-marah? Yang pasti akan kulakukan: berusaha menahan diri, lalu mencari solusinya, dengan melibatkan mereka, tentu saja. Hanya saja, sering kejadiannya begini: pertama-tama, yang terdengar hanya kalimat-kalimat pembelaan diri. Lalu berubah jadi pengalihan tanggung jawab, lalu lama kelamaan kalimat-kalimat itu tidak terdengar sama sekali. Hanya gerundelan yang mengganggu kuping lebih dari dengungan sekawanan lebah mandul. Brengsek. Kalau sudah begini jelas saya tidak mau mengalah lagi. Enak saja. Memangnya solusi hanya bisa direbut dengan urat yang menegang lebih dulu, ya?

Ternyata, batasku jelas: ada atau tidaknya usaha untuk mencari solusi.

Tetap saja, solusi yang direbut dengan cara seperti itu kerap membuatku tidak enak hati. Karena di dunia-nan-kejam sana berlaku aturan yang kadung ditaati:

Ketika perkaranya seimbang, yang lebih dulu menggertak biasanya mendapat angin.
Ketika perkaranya tidak seimbang, yang lebih lemah posisinya tapi menggertak duluan, biasanya..., dianggap tidak tahu diri. Tapi seringkali tetap menang.(Apa? Tidak adil? Memang. Silakan ngambek di pojokan)
Ketika perkaranya tidak seimbang, yang lebih kuat posisinya seharusnya tidak perlu menggertak, bukan? Salah. Ternyata tetap harus ada gertakan. Dan rasanya itu buang-buang enerji saja.

Ugh, betapa aku tidak ingin memulai hari dengan marah-marah.

Post-scriptum: kalau mau uji kesabaran, sering-sering saja berurusan dengan kantor yang ada tulisan "KANTOR DINAS" atau "PEMERINTAH" di papan namanya tanpa membawa uang lebih.

***

0 ORANG BERKICAU BALIK: