16 July 2007

In the Mood for Laugh

“Laugh and the world laughs with you. Weep and you weep alone.”

Solitude, a poem by Ella Wheeler Wilcox. Re-stated by Dae-su Oh in Oldboy (Chan-wook Park, 2003) and by The Joker in Arkham Asylum: A Serious House on Serious Earth(*)


Terinspirasi saran seorang kawan, tiba-tiba saja saya tergerak untuk melihat perkembanganku sendiri dalam memaknai tawa. Sebut saja ini Evolusi Tawa. Bagiku, tawa adalah respon alami kita dalam menghadapi kontradiksi yang dibarengi perasaan lega karena melepaskan energi ekspektasi (yang dimentahkan oleh kontradiksi).

Nah, lalu apa saja sih yang membuat kita tertawa? Saya mengajukan pengalaman pribadi sedikit:

[Fase 1]
Usia SD. Ini adalah masa ketika tertawa berarti melihat kekonyolan dan kontradiksi yang terlihat jelas di permukaan. Superficial paradox. Atau bahkan: kebodohan-kebodohan yang begitu nyalang terpampang. Maka diri-usia-SD ini adalah diri yang tertawa ketika melihat humor dan lelucon yang kalau sekarang akan terlihat garing. Misalnya gurauan semacam: "Kamu dicari temenmu..." - "di mana?" - "di bonbin. Haaa-ahahahaha...!!" Garing sekali bukan? Tapi ini saatnya kita belajar mengamati, bahwa ada yang namanya kontradiksi semacam itu, dan itu lucu.

Lalu lelucon slapstick. Slapstick tidak pernah gagal, karena lelucon dengan gerak tubuh tidak memerlukan penalaran panjang-panjang. Yang terlihat saja sudah cukup merupakan pameran kebodohan, ketakterdugaan, dan karenanya: lucu. Sayangnya sementara orang sering meleset memperkirakan kadar kelucuannya sendiri. Lelucon slapstick, ketika ditambah-tambahi efek suara konyol semacam "TWEWEW-WEW..." untuk suara per, "BOING!" untuk suara kepala terbentur, atau "Tukutuk-utuk-utuk..." untuk suara berlari cepat, kerapkali malah menimbulkan kesan merasa-lebih-lucu-dari-seharusnya.

Milestone of my Phase 1: Film-film Warkop DKI; Three Stooges; badut sirkus (dan bukan badut Ancol yang mendekat, dan karenanya menyeramkan...)


[Fase 2]
Usia SMP. Aih, SMP. Bukankan ini masa ketika kita merasa keren, merasa akan bisa berbuat apa saja, merasa...kan segalanya pertama kali? Termasuk soal seks. Bukan, bukan seksnya sendiri. Tapi pengetahuan soal seks umumnya menjadi sesuatu yang SANGAT menarik bagi diri-usia-SMP [meskipun sebetulnya saya udah sejak SD. Ew]. Dan lagi, bukankah seks, di masyarakat kita, masih merupakan hal yang tabu dibicarakan secara umum? Tentu saja ketertutupan semacam ini membuat humor dan lelucon seks, atau setidaknya yang "menjurus", membuat minat kita semakin menjadi-jadi. Apa yang sangat ditutup, ketika diintip sedikit, jadilah ia sesuatu yang mengejutkan, dan...lucu. [Sedihnya, beberapa oknum orang dewasa tak bertanggung jawab sering menyodokkan lelucon-lelucon seks ke wilayah usia SD dan merasa keren karenanya...]

Lelucon slapstick masih mendapat tempat di hati di masa SMP ini, tapi mungkin sudah lebih advanced. Kita mengharapkan sesuatu yang lebih "dalam", meskipun sering masih terbingung-bingung, apa sesuatu yang lebih "dalam" itu.

Milestones of my Phase 2: The Gods Must be Crazy; Srimulat; lelucon saru dan jorok.


[Fase 3]
Usia SMA, dan awal perkuliahan. Ow, adakah masa yang lebih indah dari usia SMA?
[Ada, sih...] Inilah waktunya kita berbuat segalanya! Berkarya, berekspresi, dan ber-ber... lainnya. Apalagi ketika lulus SMA dan merasa dewasa ketika telah memasuki jenjang kuliah. Kita telah mencicipi sedikit apa yang dinamakan "hidup", dan mulai bisa mencermati segala paradoks dan kelucuannya. Maka ini saatnya untuk humor yang bisa membuat kita sedikit berpikir. Namun karena masih tahap "mencicipi", kelucuan kerap hadir lewat orang lain. Kita masih dalam tahap diajari, misalnya lewat acara humor [yang sehat, tentunya, tidak sekedar slapstick...] semacam sitkom. Di masa SMA juga saya belajar tentang humor yang timbul dari quick-wittiness. One-line-joke semacam ini adalah latihan yang bagus untuk humor yang cerdas. Biasanya berbentuk respon cepat dan sekilas asbun, tapi penuh kejelian, dan lagi-lagi tidak terduga. Dan karenanya: lucu.

Tapi kalau slapstick, kenapa tidak? Slapstick adalah dasarnya komedi, dan tidak akan pernah lekang oleh waktu. Slapstick tetap saya hormati. Hanya saja, saya juga menghormati masa SD sebagai Sekolah yang Dasar. Lalu apakah kita akan terus berkutat di slapstick? Apakah kita akan selalu di SD?

Milestones of my Phase 3: Sitkom, seperti Friends dan Seinfeld; masih Srimulat.


[Fase 4]
Usia twenty-something. Wah, apa mau dikata? Ini adalah masa ketika kita sendiri yang tercebur langsung di ironi kehidupan [aiyaa...].
Setelah lama menertawakan ketololan dan ironi orang lain, ini saatnya kita menertawakan diri sendiri. Terdengar pahit, ya? Tapi kalau kita bisa memandang kehidupan kita sendiri sebagai sesuatu yang lucu, setidaknya ada semacam katarsis, dan tidak perlu berkerut kening memikirkan beban hidup. Saya berani bilang bahwa ini masa terdewasa dalam berhumor, karena yang berusia lebih tua pun yang bisa mereka lakukan kurang lebih sama: menertawakan perjalanan hidup mereka sendiri. [Atau kalau ada koreksi...?]

Sayang, banyak sekali yang gagal memasuki fase ini. Mereka acapkali menjebak diri dalam kemarahan dan memarahi orang lain yang berani-beraninya tertawa. Contoh paling mudah: bangsa kita. Dulu memang ada masanya ketika kita masih bisa menertawakan diri sendiri, misalnya lewat dagelan Mataraman yang menertawakan kegagapan diri dan masyarakat. Tapi alangkah sial, struktur feodal masyarakat kita membuat kedewasaan semacam itu ternyata hanya ada di golongan orang kecil dan pariah yang terpinggirkan. Kini, kita menjadi sebuah bangsa penuh paradoks, yang seharusnya lucu, tapi malah marah-marah kalau ditertawakan. Semakin lucu saja bukan?

Akibat dari ketidakdewasaan dalam berhumor sudah jelas: masih saja melarikan diri ke lelucon seks dan slapstick. Perhatikan saja hampir di seluruh industri media kita. Kalau ada yang berusaha cerdas sedikit, jadilah ia momok, dan rating pasti turun. Hiii.

Milestones of my Phase 4: Standup comedians; Republik Mimpi and the likes; Monty Phytons; English "dry" humor and everything that said "reality bites".

Begitulah. Kalau ada yang mengamati bahwa saya melewatkan satu unsur penting humor, Anda benar. Saya sengaja melewatkan "humor celaan". Sebetulnya bisa jadi humor-celaan ini adalah bagian kecil dari humor yang memamerkan ketololan [misalnya Dumb and Dumber, Srimulat...]. Tapi bedanya, ia dengan sengaja menegaskan superioritas seseorang atas yang lain. Bagi saya itu humor yang paling tidak berharga, karena secara inheren bersifat merendahkan. Belum lagi yang paling jahatnya, kalau bersifat fisik. Meski bukan termasuk orang yang selalu dicela, dulu saya sempat termasuk golongan yang ikut mencela. Dan rasa bersalah itu tidak pernah hilang.

Sedikit bicara agama, tidak heran kalau Nabi paling membenci humor semacam ini. Ha. Saya sendiri mungkin bukan pengikut Nabi yang baik, tapi setidaknya: saya cowok yang sensitif. Aw.

Eh, tapi ada pengamatan yang lain mungkin?

***

(*)Actually, The Joker hanya mengucapkan bagian pertamanya. Namanya juga psikopat...

[Thanks to mistymind. Posting ini ditulis dalam mood ketika saya bisa tertawa terbahak-bahak oleh gurauan level SD. Tampaknya lagi regression mode, dan sedang parah-parahnya...:)]


***

0 ORANG BERKICAU BALIK: