07 August 2007

>> Dagelan Bangsa dalam 3 Stanza <<

[Stanza Uno]
Tersebutlah seorang selebriti
serasa pakar ia menyebut diri
Raden Roy Suryo namanya
mengaku menemukan Indonesia Raya

Dari perpustakaan Leiden Belanda
Padahal dari YouTube ia mengunduh[1]
Katakanlah padaku pakar telematika
di dunia maya siapa memuat lebih dulu

Tersebutlah sekelompok cendekia
Tim Air Putih namanya
Kabar berita tuan Raden menyelia
Padahal simpatisan belaka[2]

Bagaikan para penemu dunia baru
padahal ada yang tinggal sejak dulu
atau bila Edison kehilangan bola lampu
lalu seseorang mengaku sebagai penemu

[Stanza Due]
Tersebutlah seorang pejuang warta
yang dihormati lagi dikagumi
Bapak Des Alwi punya nama
nyatanya beliau empunya lagi punya bukti[3]

Wahai tuan Raden jadi belingsatan
menuduh pejuang punya mau keparat[4]
kenapa tuan Raden jadi berangasan
apa memang maunya menjilat

Dulu pejuang merelakan rekam rupa-rungu
untuk diemong para pamong praja
sayang para pamong teramat dungu
rekam rupa-rungu menguap begitu saja[5]

Para pamong terkini bikin malu
Indonesia Raya lama mengaku tidak tahu
apa guna punya di negara punya tahta
kalau yang di kepala cuma harta


[Stanza Tre]

Langgam usang dunia warta
angguk-angguk tuan Raden punya kata
padahal cuma mau jual diri
dunia warta bisa jual sensasi

Ingat-ingat ajaran bu guru
di mata pelajaran menyanyi
ingat-ingat kami buka buku[6]
ternyata 3 stanza memang basi

Wahai bangsa kerdil lupa diri
Lupa akan semua cerita diri
Yang sudah dianggap tidak usah
Jati diri dianggap tidak basah

Demikian dagelan bangsa amit
yang kalah lucu dari Srimulat
maunya cuma mainan dedemit
dan mainan orang keparat


***

Cukup. Dagelan tidak lucu nan menjijikkan ini harus segera diakhiri. Bagaimana mungkin pembodohan/kebohongan massal sejenis ini bisa dibiarkan melenggang begitu saja? Masalahnya, yang dibohongi baru tahu belakangan bahwa mereka dibohongi. Tidak, ini tidak sepenuhnya salah sang Raden, tentunya. Ini adalah ramuan-sempurna-dengan-kadar-pas dari tiga bahan utama:

  • Seorang selebriti yang merasa diri ahli, haus akan popularitas.
  • Segerombolan nyamuk media yang haus sensasi.
  • Khalayak [publik, pejabat, dan termasuk saya sendiri] yang buta budaya.

Semuanya diaduk dalam satu adonan, menciptakan teater menggelikan bangsa pelupa lagi alpa.

Baiklah, tentunya tidak semua orang punya beban untuk mengetahui sejarah negeri sendiri, bukan? Sayangnya, yang berwenang untuk itu sangat berkompeten untuk tidak melakukannya. Bukan berarti tidak ada segi positif dari kejadian ini. Kita semua seolah dipaksa lagi untuk ingat bahwa lagu kebangsaan kita memang aslinya terdiri dari 3 stanza, dan bahwa ada peraturan yang mengaturnya, dan bahwa…, dan bahwa…, dan lain-lain. Hanya saja, semua itu harus terungkap lewat akrobatik ketololan yang dihiasi klaim-klaim “keaslian”, “kebaruan”, retorika “milik negara” yang motivasinya dipertanyakan, sampai tendensi adanya karakter asinan [character assassination] kepada tim Air Putih [“…tukang kebun!”] dan –bisa-bisanya– ke Des Alwi sendiri.

Saya teringat menonton JiFFest dua tahun yang lalu dalam sebuah sesi berjudul From the Cabinet of Des Alwi. Sehabis menyaksikan pemutaran dokumentasi lawas, Bapak Des Alwi sendiri tampil di depan kami semua sebagai pembicara. Beliau menyampaikan bahwa potongan-potongan klip itu memang kebanyakan tidak bias bercerita sendiri. Banyak yang harus disertai kisah tambahan untuk memperjelas konteksnya. Dan sejauh ini hanya beliau yang mengingat konteks masing-masing klip. Astaga. Saat itu juga, tiba-tiba saya merasa ngeri: bagaimana kalau beliau sudah tiada nanti? Akan lenyap semua kisah di balik dokumentasi berharga itu. Kenapa tidak dikatalogisasi dan dirapikan pengarsipannya? Ha. Apakah kita masih tega mengharapkan lebih dari Bapak Des Alwi ini, yang sudah sebagai single-fighter menjaga klip-klip itu? Yang sudah berperan bagai H.B. Jassin-nya dunia audio visual?

Nah, cukup mengutuk. Apa yang bisa dilakukan? Dukung setiap perjuangan untuk melawan amnesia sejarah. Salah satunya, yang akan dengan senang hati kulakukan, adalah mendukung perjuangan Sinematek Indonesia untuk merawat semua peninggalan audio-visual perfilman Indonesia, dengan tema Menolak Hilang Ingatan. Hmm, betul sekali...

Dan kenapa juga arsip-arsip sepenting ini harus dijaga oleh inisiatif segelintir pejuang berdedikasi tinggi? Apa? Pemerintah? No comment ah...

***

[1] Kabar terakhir menyebutkan bahwa yth. KRMT RS bukan mengunduh dari YouTube, tapi bahkan mengkopi dari harddisk anggota Air Putih.
[2] Muncul klarifikasi dari Tim Air Putih sehubungan dengan pemberitaan media bahwa RS memimpin tim mereka.
[3] Klarifikasi Des Alwi di Metro TV
[4] Semoga bukan gejala character assassination.
[5] Memang sulit mengharap dari pengurus negeri ini.
[6] Dalam sebuah forum, seorang user bernama boo mengkonfirmasi dugaan lawas saya tentang buku kumpulan lagu wajib yang memang berisi 3 stanza sejak lama, antara lain (dikutip sesuai aslinya)

  • Indonesia Persadaku, penyusun W.S. Simajuntak, th terbit cetakan pertama 1984 , kode buku TT. 0016.02.1984 (Februari 1984?) terbitan Titik Terang hal 9 utk yg teks yg diketahui scr umum, hal 10 utk 2 stanza yg laen (cover warna hijau tua, kayanya ini yg umum dipake)
  • Cintaku Negeriku, Kumpulan Lagu Wajib dan Perjuangan, penyusun DS. Soewito M, th terbit gak jelas, cuma ada kode buku : T.T. 0102.04.94 (April ‘94 kah?) terbitan Titik Terang hal 9-12 utk yg teks yg diketahui scr umum, hal 12 utk 2 stanza yg laen (dua edisi, satu edisi cover warna kuning telur, edisi yg lain cover warna biru)
  • Lagu Nasional dan Lagu Daerah, penyusun Joko Susilo, th terbit gak ada, penerbit gak ada hal 3 utk yg teks yg diketahui scr umum, hal 3 utk 2 stanza yg laen


Teriring terima kasih untuk blogger-blogger lain yang turut menyumbang info: ryosaeba, ndorokakung.

0 ORANG BERKICAU BALIK: