21 February 2007

Mengarungi Tujuh Koridor

[ Dari balik kaca mobilnya, bocah itu, Jamie, menyaksikan segala hal yang mungkin menakjubkan dan sekaligus menakutkan baginya. Kehidupan di jalanan Shanghai begitu kotor, keras, tanpa ampun. Tapi menarik untuk ditonton.

Suara-suara penjaja dagangan, dan ocehan orang-orang Cina yang tak akan pernah dimengertinya, bagaikan musik yang eksotis, asal didengarkan dari balik kaca jendela saja. Jamie tidak punya alasan untuk khawatir. Kaca jendela itu juga yang melindungi dirinya dan orang tuanya. Menegaskan sebuah garis batas antara dunia “kami” dengan dunia “mereka”...]

***
Sepenggal adegan dari film Empire of the Sun, sepele, tapi begitu puitis. Membekas dalam ingatanku, terutama hari ini. Hari di mana aku “bebas” tugas, dan memutuskan untuk melakukan “Safari Busway”. Ya, hari ini aku memutuskan untuk sedikit berwisata, menjelajahi seluruh halte Busway Jakarta yang ada, mencoba setiap hub, mengarungi tujuh koridor, sekedar untuk bisa mengatakan aku pernah mencobanya.

Apa yang aku rasakan? Sebagai sebuah moda transportasi, aku salut. Bisa jadi ini solusi yang cukup berhasil. Mengenai masalah tergerusnya lahan hijau terbuka dan terganggunya saluran air gara-gara jalur busway ini..., yah, itu masalah yang lebih besar lagi memang, dan menuntut kita melihat bigger picture-nya. Sesuatu yang jarang dilakukan bahkan oleh orang-orang yang seharusnya melakukannya. Tapi aku tidak akan membicarakan itu dulu di sini.

Niat awalku adalah ingin mengintip dari jendela bus, kira-kira tempat-tempat mana saja di pelosok Jakarta yang bisa aku datangi dengan mudah. Begitu keluar dari halte, hop, tinggal memasuki gedung tujuan atau menaiki angkutan umum penghubung. Tapi tiba-tiba perasaan itu muncul juga. Sebentuk penyesalan, mungkin. Atau perenungan. Atau bahkan rasa bersalah. Dari balik jendela mati bus-bus berpendingin ini, Jakarta bagaikan diorama di museum yang dingin. Eksotis, padat, kumuh, katanya sih nyata. Tapi..., jauh.

(13.30: lihat, ibu tua itu sedang memanggul karung besar di depan Pasar Pulogadung, di antara lumpur sisa banjir dan tumpukan sampah)

Lho, itu kan intinya? Otak kiriku berusaha memprotes segala melankolia yang tidak perlu ini. Kita membayar untuk kenyamanan ini kan? Supaya tidak perlu merasakan kekumuhan itu!

Ya, bisa jadi. Tapi di luar sana, kehidupan yang sesungguhnya sedang berjalan. Di antara tumpukan sampah dan udara yang menghitamkan paru-paru, jutaan orang bertahan hidup. Bertahan hidup bersama. Bertahan hidup dari yang lain. Bertahan hidup dengan memangsa.

(14.23: di dalam MetroMini nomor 45 itu..., apa yang dilakukan pria itu? Menjajakan pernik-pernik murah? Mengamen? Mengancam?)

Jadi, kehidupan di dalam bus mewah ini bukan kehidupan yang “sesungguhnya”? Ngawur kamu.
Tentu saja ini kehidupan yang juga sesungguhnya. Tapi hanya sementara. Lagipula ini cuma alat transportasi. Menghubungkan satu tempat dengan tempat yang lain secepat dan senyaman mungkin. Seluruh jaringan busway bagaikan tabung-tabung tertutup yang terisolir dari dunia luar, dapat dijelajahi dengan aman, dari ujung ke ujung. Tidak seperti bus biasa atau metromini yang terkontaminasi pedagang, pengemis atau pemalak, di dalam sini kita relatif steril dari gangguan dunia luar. Untuk sesaat, “kita” benar-benar dapat memisahkan diri dari “mereka”. At a certain cost, of course.

Ah, kamu berlebihan! Kan tiketnya murah? Setidaknya kelebihan sekian ribu perak sangat sepadan untuk membeli kenyamanan ini. Setiap orang bisa saja memanfaatkan jasa busway ini.

The cost I’m talking about is not just financial cost. But also a cost in society. Contoh klasik segregasi di mana kita dipaksa untuk memilih di antara dua: berkubang di luar dengan segala resikonya, atau membeli rasa aman dengan cara mengurung diri di dalam tabung-tabung berpendingin, meskipun murah dalam rupiah. Apa yang sebenarnya terjadi ketika manusia pada akhirnya dipaksa untuk memilih satu di antara dua ini?

(16.55: penumpang menuju angkutan “biasa” berjejalan di Kampung Melayu. Seorang bapak menggendong anaknya dengan susah payah, dan tangan satunya berusaha keras memegangi tasnya)

Argh, sudahlah. Kamu terlalu banyak berpikir, seperti biasanya!

(19.07: di halte Pejaten, sendirian. Menunggu Bus Koridor VI yang tak kunjung muncul. Di pinggir jalan, MetroMini nomor 75 dijejali penumpang di antara kemacetan)

Ternyata hari ini aku tidak “berlayar” di tujuh koridor. Aku hanya berenang di dalam tabung-tabungnya. Aman dan terlindung.

***

Lanjut...