26 June 2007

Me vs. High Hills

Dark is the night, cold is the ground
In the circular solitude of my heart
As one who strives a hill to climb
I am sure I'll come through I don't know how
They say an end can be a start
Feels like I've been buried yet I'm still alive
I'm losing my balance on the tight rope

Tell me please, tell me please, tell me please...

("If I Ever Feel Better", Phoenix, 2001)

[Sore itu di bulan Juni yang murung, ia membawaku ke ruangan gelap tanpa jendela, dan berharap mendapat jawaban]

bung, tidakkah kamu ingat, kaum dan umat manusia binasa karena mereka menolak cahaya. tapi tidak seorangpun pernah tahu apa yang ada di benak mereka. adakah mereka berbahagia? adakah mereka TIDAK berbahagia?

sialnya acapkali cahaya datang dalam diam, dalam hening, dan tidak seorangpun menyadarinya. ketika diwartakan, cahaya dihindari seperti wabah. bahkan cahaya ditolak keberadaannya meski orang sudah terbebas dari gua plato. "itu bukan kebenaran", kata mereka, lalu bersikeras bahwa bayang-bayang yang mereka lihat selama di dalam gua-lah kebenaran. tapi cahaya tetap cahaya, bukan?

tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

betapa indah. betapa naif. betapa sederhana. bung, tidakkah kau tertawa saat menyadari bahwa bahkan kenaifan bisa menyelamatkan. tapi bung, yang aku tahu, kau diam-diam mengatupkan gerahammu dalam amarah karena kau mendapati dirimu tidak tergetar sama sekali. sama sekali. dan selamanya pula kau jadi ragu. di balik topengmu, aku hanya merasakan sebentuk kenaifan yang lain, yang kau anggap mulia. dan seorang lain akan terluka. bukit-bukit gelap dan dingin menjadi saksi bisu kekecewaanmu terhadap hatimu sendiri. dan di malam jahanam bukit-bukit itu bergetar, menjeritkan suara-suara paling purba dalam kegelapan belantara, meneror segala yang kau bangun atas nama kemanusiaan. tengkukmu lalu mendingin. kau sadar: alangkah rapuhnya. alangkah bohongnya. toh semua yang dibangun atas nama "kemanusiaan" tidak lebih dari kebohongan. dengan berlapis-lapis kebohongan, sia-sia saja mencoba menemukan asal mulanya. dan tentu saja tidak ada yang orisinil, karena kebohongan tidak memerlukan orisinalitas. everything’s far away. everything’s a copy of a copy of a copy. sebuah simulakra sempurna, bung. mr. baudrillard is in da house. mr. palahniuk's gonna buy you some drinks, too.

bung, selama ini kau menulisi buku harianmu dengan tinta darah. kalau saja memang ada sepenggal masa limbung yang hendak diakhiri, apa lagi yang diharapkan? haruskah kau menganggap diamnya dirimu itu salah? atau kau menghibur diri, mengatakan bahwa hal itu tidak bisa dipaksakan dengan setumpuk pembenaran yang menudungi? atau jangan-jangan dongeng ofelia benar adanya, bahwa manusia terlalu sibuk ketakutan pada duri berbisa daripada meraih janji keabadian mawar hitam itu. tetapi bagaimana jika mawar hitam itu bahkan berbohong? bagaimana jika ternyata mawar hitam penjanji keabadian itu telah lama mati. (alangkah ironis!) selamanya kau tidak akan tahu, ketika bahkan Sang Serba Maha pun ternyata penggemar berat teka-teki.

ketulusan tak berbalas, atas nama suara hati (atau jangan-jangan, lebih tepat: atas nama bisikan setan dari pojok tergelap relung kesadaranmu). sembari diam-diam mengeraskan geraham, memandang benci pada bajingan berkerut di cermin retak itu. lalu panik.

"Di mana topengku?" tanyanya, entah kepada
siapa. Dalam kamar rias: cermin retak, pemerah
pipi, dan bedak berceceran di mana-mana;
dan tak ada topeng. "Di mana topengku?" tanyanya.
...

apa yang tersisa? mungkin: cuma suara parau dan lirih di sambungan telpon nan panjang malam hari, dari nomor entah yang sudah hilang di lubang memori. atau wajah-wajah berkerut menantang angin di balkon reot itu. lalu bersama berbagi pertanyaan-pertanyaan tak terjawab. dan aku tetap tidak tahu MENGAPA, bung. kaulah yang seharusnya menjawabnya.

Tapi ternyata, semua ini berujung pada satu kebenaran yang sialnya sudah lebih pasti: bahwa pengkhianatan selalu datangnya dari dalam.

***

(teriring terima kasih untuk bapak ini...)

Lanjut...

03 June 2007

Bahaya Laten (buat) Tukul

Baru saja Trans 7 menayangkan 1st anniversary Empat Mata. Astaga, sudah setahun ya? Waktu terasa cepat berlalu, apalagi kalau mengingat bahwa setelah baru setahun Empat Mata sudah ada isyarat akan diganti. Tentu saja daya magisnya menurun dengan cepat. Selama setahun yang singkat ini pula Empat Mata digeber habis sampai aus, tanpa ampun. Diperah habis-habisan oleh pemilik dana. Mumpung laku, bikin tiap hari! Durasi juga diperpanjang! Nggak ada urusan! Mungkin begitu bentak para pemimpin stasiun.

Dengan pressure tiap hari seperti ini, rasanya tidak akan mengejutkan kalau tim kreatif kehabisan stamina. Pun dengan sang dedengkot sendiri, Tukul Arwana. Kalau dulu ia tampil mengejutkan dengan ‘dobrakannya’ –wong ndeso yang jadi host sebuah talkshow– khalayak terperangah, sekaligus terhibur. Bagaikan penghibur desa yang tiba-tiba tampil glamour dan melakukan aksi-aksi pengundang tawa yang orisinal. Dan penonton pun tertawa. Masalahnya, ketika ‘aksi-aksi orisinal’ itu dilakukan tiap hari, memangnya penonton akan tertawa lagi?

Apa yang harusnya dilakukan Tukul? Penyegaran diri. Redefinisi?

Tidak ada yang bisa menyangkal bahwa Tukul mencapai ini lewat kerja keras dan ketekunannya. Kesuksesan yang dinikmati sekarang mungkin jangan dianggap puncak. Kalau dianggap puncak, cuma ada satu jalan lagi: turun.

Tampaknya Tukul sepenuhnya sadar akan hal itu. Maka dia memanfaatkan betul tiap momen dari 15 minutes of fame-nya. Ia memanfaatkan media, dan media memanfaatkannya. Di dunia yang serba cepat, instan dan terfragmentasi ini, itu semua sah. Tapi apa lalu tidak perlu ada rencana yang bersifat jangka panjang. Menyangkut brand namanya sendiri, misalnya?

Di satu sisi, Tukul adalah sepenggal inspirasi. Kisah tukul jadi inspirasi kelas menengah-bawah untuk bisa menapak jalan menuju sukses. Tapi bagi kelas menengah-atas yang kebanyakan tidak menjalani hidup seekstrem Tukul bisa jadi hanya menganggapnya sebagai semacam "lucky bastard". Belum lagi kenyataan bahwa Tukul-yang-bisa-menertawakan-diri tidak didukung oleh masyarakat-yang-bisa-menertawakan-diri. Sering dikatakan bahwa kedewasaan humor sebuah masyarakat diukur dari seberapa jauh mereka bisa bercermin dan memperolok diri sendiri. Meskipun ada yang mengklaim bahwa gaya lawak Tukul bisa membuat pemirsanya (orang Indonesia?) bisa bercermin, tapi toh mereka lebih tertawa ketika Tukul berteriak,"puas? Puas?" Pada saat itu pula mereka lebih menertawakan "penderitaan" Tukul (meski di-"lucu"-kan) yang tidak berdaya ketika dihina-hina. Maka materi lawakan Tukul bagi orang-orang ini bukan jadi cermin diri, tapi jatuh-jatuhnya mencela Tukul belaka. Situasi ini mengingatkan saya pada kekesalan Harvey Pekar tentang betapa kegemaran pemirsa Late Night with David Letterman padanya tidak lebih dari kesenangan yang menjadikannya sekedar obyek penderita.

Apalagi nasehat-nasehat Tukul tentang etika kerja keras yang disampaikan dalam bahasa dan gayanya yang blak-blakan bisa jadi malah disalahartikan sebagai kenorakan atau bahkan kesombongan. Bibit-bibit itu sudah saya temukan dalam komentar beberapa orang ttg nasehat Tukul itu.

Bagaimana mungkin orang bisa sedengki itu?

Dalam masyarakat yang menjadi obyek, yang tertekan oleh ilusi hidup modern, entah karena ilusi kesamaan derajat (sosialisme) atau ilusi kesamaan kesempatan (kapitalisme), maka ada yang saya namakan "mayoritas yang menggerutu".

Boleh saja ke-ndeso-an dan suasana egaliter yang dibangun Tukul menciptakan ruang bersama bagi semua orang tanpa peduli jabatan dan kelas, seperti yang dicermati Garin Nugroho. Tapi pada kenyataannya, Tukul tetaplah selebriti yang lalu tergabung dalam kelompok elit.

Mayoritas orang tidak pernah seberuntung seleb, atau yang termasuk di kalangan 'elit'. Sulitnya, tidak ada penyaluran yang memadai dalam ruang publik yang semakin tergerus. Maka tercipta kondisi antagonisme kultural yang terutama dipupuk pada lahan pers populer (padahal apa lagi yang mendera kita terus-menerus kalau bukan pers populer, dalam bentuk infotainment misalnya?). Sebagai tokoh-pelaku utama dongeng kehidupan, selebriti sangat rawan akan keinginan "pemirsanya". Gregg Alexander, dedengkot New Radicals pernah mengecek ombak di ranah ini. Dalam lagunya "You Get What You Give" ia mengkritik kondisi sosial dan sesekali menyerang beberapa selebriti secara langsung. Sesuai antisipasinya, media dan massa lebih suka membicarakan selebriti yang disasarnya, seolah selalu ada rasa dengki yang laten. Dan ia sendiri jadinya lebih sering ditanyai seputar serangannya pada tokoh-tokoh seleb itu. Entahlah apa Gregg senang atau sedih ramalannya terbukti.

Toh kemarahan yang terpendam ini tidak pernah disalurkan untuk meruntuhkan tatanan mapan/elit, untuk "membuat dunia jadi lebih baik", tapi lebih banyak dinikmati saja, seperti orang masokis. Kita marah karena mereka lebih 'beruntung' dari kita, tapi toh kita tidak berbuat apa-apa.

Bahayanya, media massa jugalah yang sadar betul akan kondisi psikologis masyarakat ini, dan pada gilirannya mengekspliotasi dalam bentuk acara gosip, pembunuhan karakter dan sebagainya.

Akan tiba saatnya Tukul tidak lagi laku, terutama bila ia menjual materi yang itu-itu saja. Bisa jadi ketika sudah tidak bisa dijual lagi nanti, media akan menanti satu kesalahan Tukul untuk dieksploitasi, untuk menyalurkan keinginan gelap "masyarakat yang menggerutu" tadi.

Tapi setidaknya saya harus mengucapkan selamat, karena Empat Mata berhasil mencapai satu tahun. Hey. It’s a compliment.

Lanjut...