20 July 2007

the emperor(s) has no clothes, indeed.

Here's a blatant illustration:


Two little girls walked along on their way home from school. One of them is well-known as their teacher, Mrs. Smoochy's pet. But she seemed to be good-natured, nevertheless. So her classmates saw nothing harm in befriending her anyway. The teacher' pet started conversation:

"Tell me, is it fun to play on the yard?"
"Why, surely it is! Why?"
"I've been spending too much of my time studying indoors, accompanied by Mrs. Smoochy. I've been wondering..."
"Yes?"
"Is it fun to play with you guys?"
"Of course it is! You have to join us sometimes!"
"Well, I..."
"Come on! It will be fun. You can't study all the time!"

The teacher's pet didn't say anything. The very next day, the girl who was trying to befriend the teacher's pet was grounded. She was told to stand in schoolyard, punished and humiliated for the entire school to see. Her mistake was that "she had been downgrading the value of studying, insulting the teacher's pet, thus insulting teacher's authority". The poor little girl didn't even get to hear the verdicts before her punishment.

It could be an unfortunate true story in a school somewhere. But to be displayed in a prestigious nine-stories building?

Whoa.

So what's the moral of the story, children?

(1) Corporate culture is 1984, revisited.
(2) Drama queens are dangerous.
(3) The emperor(s) has no clothes indeed. But unlike in fairy tales, the real-world emperors wouldn't spare his time being embarassed and questioning when the children pointed out their nakedness. They simply had the kid executed.

[I couldn't come up with a more layered illustration, because the event itself was unbelievably banal]

***

Lanjut...

16 July 2007

In the Mood for Laugh

“Laugh and the world laughs with you. Weep and you weep alone.”

Solitude, a poem by Ella Wheeler Wilcox. Re-stated by Dae-su Oh in Oldboy (Chan-wook Park, 2003) and by The Joker in Arkham Asylum: A Serious House on Serious Earth(*)


Terinspirasi saran seorang kawan, tiba-tiba saja saya tergerak untuk melihat perkembanganku sendiri dalam memaknai tawa. Sebut saja ini Evolusi Tawa. Bagiku, tawa adalah respon alami kita dalam menghadapi kontradiksi yang dibarengi perasaan lega karena melepaskan energi ekspektasi (yang dimentahkan oleh kontradiksi).

Nah, lalu apa saja sih yang membuat kita tertawa? Saya mengajukan pengalaman pribadi sedikit:

[Fase 1]
Usia SD. Ini adalah masa ketika tertawa berarti melihat kekonyolan dan kontradiksi yang terlihat jelas di permukaan. Superficial paradox. Atau bahkan: kebodohan-kebodohan yang begitu nyalang terpampang. Maka diri-usia-SD ini adalah diri yang tertawa ketika melihat humor dan lelucon yang kalau sekarang akan terlihat garing. Misalnya gurauan semacam: "Kamu dicari temenmu..." - "di mana?" - "di bonbin. Haaa-ahahahaha...!!" Garing sekali bukan? Tapi ini saatnya kita belajar mengamati, bahwa ada yang namanya kontradiksi semacam itu, dan itu lucu.

Lalu lelucon slapstick. Slapstick tidak pernah gagal, karena lelucon dengan gerak tubuh tidak memerlukan penalaran panjang-panjang. Yang terlihat saja sudah cukup merupakan pameran kebodohan, ketakterdugaan, dan karenanya: lucu. Sayangnya sementara orang sering meleset memperkirakan kadar kelucuannya sendiri. Lelucon slapstick, ketika ditambah-tambahi efek suara konyol semacam "TWEWEW-WEW..." untuk suara per, "BOING!" untuk suara kepala terbentur, atau "Tukutuk-utuk-utuk..." untuk suara berlari cepat, kerapkali malah menimbulkan kesan merasa-lebih-lucu-dari-seharusnya.

Milestone of my Phase 1: Film-film Warkop DKI; Three Stooges; badut sirkus (dan bukan badut Ancol yang mendekat, dan karenanya menyeramkan...)


[Fase 2]
Usia SMP. Aih, SMP. Bukankan ini masa ketika kita merasa keren, merasa akan bisa berbuat apa saja, merasa...kan segalanya pertama kali? Termasuk soal seks. Bukan, bukan seksnya sendiri. Tapi pengetahuan soal seks umumnya menjadi sesuatu yang SANGAT menarik bagi diri-usia-SMP [meskipun sebetulnya saya udah sejak SD. Ew]. Dan lagi, bukankah seks, di masyarakat kita, masih merupakan hal yang tabu dibicarakan secara umum? Tentu saja ketertutupan semacam ini membuat humor dan lelucon seks, atau setidaknya yang "menjurus", membuat minat kita semakin menjadi-jadi. Apa yang sangat ditutup, ketika diintip sedikit, jadilah ia sesuatu yang mengejutkan, dan...lucu. [Sedihnya, beberapa oknum orang dewasa tak bertanggung jawab sering menyodokkan lelucon-lelucon seks ke wilayah usia SD dan merasa keren karenanya...]

Lelucon slapstick masih mendapat tempat di hati di masa SMP ini, tapi mungkin sudah lebih advanced. Kita mengharapkan sesuatu yang lebih "dalam", meskipun sering masih terbingung-bingung, apa sesuatu yang lebih "dalam" itu.

Milestones of my Phase 2: The Gods Must be Crazy; Srimulat; lelucon saru dan jorok.


[Fase 3]
Usia SMA, dan awal perkuliahan. Ow, adakah masa yang lebih indah dari usia SMA?
[Ada, sih...] Inilah waktunya kita berbuat segalanya! Berkarya, berekspresi, dan ber-ber... lainnya. Apalagi ketika lulus SMA dan merasa dewasa ketika telah memasuki jenjang kuliah. Kita telah mencicipi sedikit apa yang dinamakan "hidup", dan mulai bisa mencermati segala paradoks dan kelucuannya. Maka ini saatnya untuk humor yang bisa membuat kita sedikit berpikir. Namun karena masih tahap "mencicipi", kelucuan kerap hadir lewat orang lain. Kita masih dalam tahap diajari, misalnya lewat acara humor [yang sehat, tentunya, tidak sekedar slapstick...] semacam sitkom. Di masa SMA juga saya belajar tentang humor yang timbul dari quick-wittiness. One-line-joke semacam ini adalah latihan yang bagus untuk humor yang cerdas. Biasanya berbentuk respon cepat dan sekilas asbun, tapi penuh kejelian, dan lagi-lagi tidak terduga. Dan karenanya: lucu.

Tapi kalau slapstick, kenapa tidak? Slapstick adalah dasarnya komedi, dan tidak akan pernah lekang oleh waktu. Slapstick tetap saya hormati. Hanya saja, saya juga menghormati masa SD sebagai Sekolah yang Dasar. Lalu apakah kita akan terus berkutat di slapstick? Apakah kita akan selalu di SD?

Milestones of my Phase 3: Sitkom, seperti Friends dan Seinfeld; masih Srimulat.


[Fase 4]
Usia twenty-something. Wah, apa mau dikata? Ini adalah masa ketika kita sendiri yang tercebur langsung di ironi kehidupan [aiyaa...].
Setelah lama menertawakan ketololan dan ironi orang lain, ini saatnya kita menertawakan diri sendiri. Terdengar pahit, ya? Tapi kalau kita bisa memandang kehidupan kita sendiri sebagai sesuatu yang lucu, setidaknya ada semacam katarsis, dan tidak perlu berkerut kening memikirkan beban hidup. Saya berani bilang bahwa ini masa terdewasa dalam berhumor, karena yang berusia lebih tua pun yang bisa mereka lakukan kurang lebih sama: menertawakan perjalanan hidup mereka sendiri. [Atau kalau ada koreksi...?]

Sayang, banyak sekali yang gagal memasuki fase ini. Mereka acapkali menjebak diri dalam kemarahan dan memarahi orang lain yang berani-beraninya tertawa. Contoh paling mudah: bangsa kita. Dulu memang ada masanya ketika kita masih bisa menertawakan diri sendiri, misalnya lewat dagelan Mataraman yang menertawakan kegagapan diri dan masyarakat. Tapi alangkah sial, struktur feodal masyarakat kita membuat kedewasaan semacam itu ternyata hanya ada di golongan orang kecil dan pariah yang terpinggirkan. Kini, kita menjadi sebuah bangsa penuh paradoks, yang seharusnya lucu, tapi malah marah-marah kalau ditertawakan. Semakin lucu saja bukan?

Akibat dari ketidakdewasaan dalam berhumor sudah jelas: masih saja melarikan diri ke lelucon seks dan slapstick. Perhatikan saja hampir di seluruh industri media kita. Kalau ada yang berusaha cerdas sedikit, jadilah ia momok, dan rating pasti turun. Hiii.

Milestones of my Phase 4: Standup comedians; Republik Mimpi and the likes; Monty Phytons; English "dry" humor and everything that said "reality bites".

Begitulah. Kalau ada yang mengamati bahwa saya melewatkan satu unsur penting humor, Anda benar. Saya sengaja melewatkan "humor celaan". Sebetulnya bisa jadi humor-celaan ini adalah bagian kecil dari humor yang memamerkan ketololan [misalnya Dumb and Dumber, Srimulat...]. Tapi bedanya, ia dengan sengaja menegaskan superioritas seseorang atas yang lain. Bagi saya itu humor yang paling tidak berharga, karena secara inheren bersifat merendahkan. Belum lagi yang paling jahatnya, kalau bersifat fisik. Meski bukan termasuk orang yang selalu dicela, dulu saya sempat termasuk golongan yang ikut mencela. Dan rasa bersalah itu tidak pernah hilang.

Sedikit bicara agama, tidak heran kalau Nabi paling membenci humor semacam ini. Ha. Saya sendiri mungkin bukan pengikut Nabi yang baik, tapi setidaknya: saya cowok yang sensitif. Aw.

Eh, tapi ada pengamatan yang lain mungkin?

***

(*)Actually, The Joker hanya mengucapkan bagian pertamanya. Namanya juga psikopat...

[Thanks to mistymind. Posting ini ditulis dalam mood ketika saya bisa tertawa terbahak-bahak oleh gurauan level SD. Tampaknya lagi regression mode, dan sedang parah-parahnya...:)]


***

Lanjut...

14 July 2007

Self-destructing Homo ironia

"On the subway today, a man came up to me to start a conversation. He made small talk, a lonely man talking about the weather and other things. I tried to be pleasant and accommodating, but my head hurt from his banality. I almost didn't notice it had happened, but I suddenly threw up all over him. He was not pleased, and I couldn't stop laughing."

—John Doe's journal in Seven (David Fincher, USA, 1995)

Never tell a same joke twice.
Never tell a same joke twice.
Never tell a same joke twice!
and more importantly...,

Never tell a lame joke twi..., even once!

: I guess that basic rule won't even stick in the goddam heads of those so-called educated men. And I wouldn't care if only you're the only ones who got castrated from it. But, no. We're being dragged here.

Do mankind a favor, please. Stop swimming in your own cement.


***

Lanjut...

05 July 2007

"...We're the all-singing, all-dancing crap of the world."

"I am just trying to get home to my little girl's birthday party and if everyone will just stay out of my way, nobody will get hurt."
—Bill "D'Fens" Foster, Falling Down (Joel Schumacher, 1993)

In our pursuit of happiness and wealth, there are always times when interests collide, due to carelessness, inherent mismanagement, or just plain, basic stupidity. It's a tragedy once pointed out by Hannah Arendt, that a mass society is doomed to live not in a common room, or a public space, where everything is SHARED. Instead, we live in a COMPETED space. Everybody for itself. So when there's a collision (even in a so-called common interest), every party then rolls up their sleeves to fight for their so-called "rights".

Biasanya, saya lebih suka mengalah kalau berhadapan dengan perkara yang seimbang, sepanjang tidak merugikan. "Sing waras ngalah...", kata orang-orang di kampung. Bahkan, sebegitu baiknya saya (sok iye banget!), kerap timbul pikiran: jangan-jangan aku terdoktrin sinetron-sinetron maha bodoh itu, untuk selalu pasrah dan menangis saja kalau dizalimi orang. Celaka. Bagaimana kalau benar begitu? Hinaan Ambar di 3 Hari untuk Selamanya pun akan masih terdengar ringan: "lo itu cowok! Marah dikit napa?" Aduh, aduh. Kalau hinaan itu kedengaran ringan, berarti saya bahkan bukan cowok dong! Apa kata dunia?

Untunglah ("untung"? Lho, kok saya tidak begitu yakin...?), di beberapa kesempatan terbukti bahwa garis batasku ternyata tegas. Ketika hak jelas-jelas sudah dilanggar, tentu saja saya bisa sangat menyebalkan bagi mereka. Tentunya ini persoalan dosis yang tepat. Kadang, miris juga ketika melihat seorang rekan memarahi pelayan atau another unlucky frontman lainnya. Kalau sudah kejadian, buat apa marah-marah? Yang pasti akan kulakukan: berusaha menahan diri, lalu mencari solusinya, dengan melibatkan mereka, tentu saja. Hanya saja, sering kejadiannya begini: pertama-tama, yang terdengar hanya kalimat-kalimat pembelaan diri. Lalu berubah jadi pengalihan tanggung jawab, lalu lama kelamaan kalimat-kalimat itu tidak terdengar sama sekali. Hanya gerundelan yang mengganggu kuping lebih dari dengungan sekawanan lebah mandul. Brengsek. Kalau sudah begini jelas saya tidak mau mengalah lagi. Enak saja. Memangnya solusi hanya bisa direbut dengan urat yang menegang lebih dulu, ya?

Ternyata, batasku jelas: ada atau tidaknya usaha untuk mencari solusi.

Tetap saja, solusi yang direbut dengan cara seperti itu kerap membuatku tidak enak hati. Karena di dunia-nan-kejam sana berlaku aturan yang kadung ditaati:

Ketika perkaranya seimbang, yang lebih dulu menggertak biasanya mendapat angin.
Ketika perkaranya tidak seimbang, yang lebih lemah posisinya tapi menggertak duluan, biasanya..., dianggap tidak tahu diri. Tapi seringkali tetap menang.(Apa? Tidak adil? Memang. Silakan ngambek di pojokan)
Ketika perkaranya tidak seimbang, yang lebih kuat posisinya seharusnya tidak perlu menggertak, bukan? Salah. Ternyata tetap harus ada gertakan. Dan rasanya itu buang-buang enerji saja.

Ugh, betapa aku tidak ingin memulai hari dengan marah-marah.

Post-scriptum: kalau mau uji kesabaran, sering-sering saja berurusan dengan kantor yang ada tulisan "KANTOR DINAS" atau "PEMERINTAH" di papan namanya tanpa membawa uang lebih.

***

Lanjut...