27 August 2007

Miss(ed) Nationalism







“Society in every state is a blessing, but government even in its best state is but a necessary evil.
[Thomas Paine, in his pamphlet, titled Common Sense]

Ya, ya. Agni Pratistha memang sudah lama tersisih dari kancah Miss Universe 2006. Dan kita yang mengecam tapi diam-diam mengagumi pun lalu diam-diam pula memendam rasa kecewa. Di latar depan panggung seremonial yang serba resmi, layar digulung, karpet dilipat dan berbagai pejabat dinas terkait bisu seribu bahasa. Kekalahan sudah ditelan, dalam diam dan dalam pahit. Agni pulang tanpa kalungan bunga kemenangan. Malah disambut spanduk dan teriakan para penjaga moral.

Barangkali masih ada yang bersuara bahwa Agni telah berusaha sebaiknya untuk mengharumkan nama bangsa. Astaga. "Mengharumkan nama bangsa" (!). Tiba-tiba saja jargon itu menghembuskan aroma lama berbau nostalgia tentang nasionalisme. Sayang ingatan saya tentang itu tidak jauh dari ruang kelas yang kelabu dengan papan tulis berdebu, di mana ibu guru mencoret-coretkan kapurnya ketika pelajaran PSPB atau PMP. Aroma lama itu tiba-tiba terasa sangit. Saya terpaksa mengaku: bahwa selama ini saya masih berusaha percaya pada narasi agung semacam itu. Antara ingin mengakar pada sesuatu atau cuma menganggapnya sebagai waham. Memangnya makhluk macam apa nasionalisme itu? Apakah ia begitu istimewa? Apakah nasionalisme berkaitan dengan identitas? Budaya? Toh di ajang yang sama pula, identitas nasional itu terkoyak: kontestan Malaysia mengenakan kostum nasional dari etnis yang sama dengan Agni: Dayak! Tiba-tiba kita terhenyak, kaget sekaligus marah, ketika Malaysia mengklaim Dayak juga sebagai identitas nasionalnya. Baru teringat: memang betul bahwa etnis Dayak hidup dan bermukim di minimal dua negara itu.

Nasionalisme Harga Mati
Persoalan itu hanya terendap di ingatanku sampai teraduk kembali beberapa hari yang lalu. Di suatu sore yang berguncang, saya berbincang dengan seorang bapak tua yang tampaknya telah makan asam-garam-gula kehidupan [gulanya lebih banyak, mengingat dia sudah berkecukupan sekarang...] Sepanjang pembicaraan, seperti layaknya seseorang yang has been there, done that, ia menceritakan pengalaman kerja dan hidupnya. Dengan sedikit rasa usil [dan juga rasa sinis bahwa manusia suka pamer diri], saya terus memancingnya bercerita. Di antaranya, pengalamannya menembus hutan-hutan Kalimantan untuk beberapa proyek. Dikatakannya, bahwa etnis Dayak seluruh pulau
termasuk Malaysia— tergabung di bawah kepemimpinan seorang panglima. Bahwa kepentingan etnis mereka ternyata lebih diakomodasi oleh pemerintah Malaysia, sehingga mereka memilih menyelenggarakan pertemuan adat dengan berbondong-bondong pergi ke Malaysia. Bahwa kabarnya pemerintah Malaysia membentuk semacam kementriannya sendiri untuk mengurus etnis Dayak. Bahwa pemerintah Malaysia memperoleh hasil politis yang lebih menguntungkan dengan proses ini. Dan bahwa ternyata Indonesia memang kecolongan lagi...

Waah, betulkah? Tentu saja saya belum bisa mengkonfirmasi kebenaran cerita ini. Butuh pekerjaan wartawan investigasi untuk menyelidikinya. Setahu saya, sejak tahun 1960-an dari awal orde baru, kabarnya etnis Dayak lebih dimanja secara politis di Indonesia ketimbang di Malaysia. Bisa jadi keadaan berbalik sekarang. Boleh saja hingga kini etnis Dayak masih mendapat keistimewaan dalam politik lokal. Tetapi adakah keuntungan politis itu berguna bagi budaya dan adat Dayak? Apa yang bisa kita petik dari kerusuhan memiriskan yang bergolak di tahun ...dan 2001 dulu?

Lalu tiba pada pertanyaan paling krusial: apakah mereka tidak nasionalis?

Saya yang masih berusaha nasionalis disentil dengan kenyataan bahwa nasionalisme kosong kini tidak lagi relevan. Bahkan keterikatan peradaban yang besar pun, plus budayanya, hanya mungkin ada ketika ada proses timbal-balik di antara elemen peradabannya. Mungkin sebuah dialektika yang memungkinkan perkembangan ke depan. Kalau hanya atas nama nasionalisme semata, tetapi tidak memberi kontribusi hidup, untuk apa? Yang ada hanya paham yang jumud, kaku dan mengungkung. Ngerinya, ini yang tercermin di mana-mana lewat retorika semacam NKRI Harga Mati dan sejenisnya. Mengharapkan nasionalisme buta sekarang sama tololnya seperti mengharapkan loyalitas anak tiri kepada ibu tirinya yang kejam. Bedanya, anak tiri tidak lagi meratap sekarang. They simply walk out, or choose to fight. Kasus lama pemberian suaka terhadap separatis Papua oleh Australia seharusnya tidak menyulut sumbu emosi kita [yang seringkali terbukti pendek], tanpa mengingat apa yang sudah dilakukan untuk kesejahteraan saudara-saudara kita di Papua.

Postmodernisme dan Ketiadaan Strategi
Semenjak modernisme ternyata gagal menjadi penyelamat, tercebur kita ke dunia postmodern, berenang-renang dalam ketidakpastian total. Orang menjadi gundah, resah. Dan gerakan kembali ke akar —entah itu agama atau budaya— tiba-tiba menjadi pilihan yang berkilau. Apalagi kalau diingat bahwa gerakan-kembali-ke-akar ini memiliki musuh favorit: globalisasi.

Globalisasi sering terbukti tidak lebih dari “gombalisasi”. Hegemoni negara maju kadung terlalu kuat, dan mereka tidak segan-segan mempertahankannya. Maka fenomena primordial-fundamentalis tampaknya memang tampil sebagai gerakan counter-globalization yang menjanjikan. Khaled Abou el-Fadl, seorang pakar hukum Islam UCLA, mengatakan bahwa fundamentalisme Islam adalah anak haram modernisme [meskipun saya lebih merasa pas menyebutnya "anak tiri"]. Bertahun-tahun, proses yang disebut kemajuan dunia berderap menggilas segala yang menghalangi. Kaum muslim terpinggirkan dalam proses itu, bahkan kerap menjadi korban. Dari situ, muncul anak-yang-tak-diharapkan, yaitu fundamentalisme. Tetapi bukankah modernisme tidak hanya menghasilkan kaum-muslim-yang-terpinggirkan? Tengok saja suku-suku terasing, gerakan berbau primordial, dan lain-lain. Ini menandakan, ternyata anak tiri modernisme ada banyak sekali. Dan fenomena ini menyebar di mana-mana. Anak-anak tiri dunia seolah bangkit berbarengan dan siap meluluhlantakkan segala retorika modernisme yang mengungkung, kebanyakan dengan konsekuensi kehancuran yang tidak mengenakkan.

Apakah dari sini bisa diambil kesimpulan bahwa konsep negara telah gagal? Bahwa nasionalisme telah mati? Tidak juga. Bahkan kalau mengingat pernyataan Ben Anderson bahwa bangsa adalah semata "komunitas yang diimajinasikan", rasanya imajinasi itu acapkali terasa sangat kuat, sehingga banyak yang memilih percaya. Imajinasi itu setidaknya masih bisa dibangun pondasinya dengan negara yang mau mengayomi. Ya, di era yang katanya semakin silang sengkarut dan semakin membaurkan batas-batas bangsa ini, negara masih punya peran. Ia bisa menjadikan elemen-elemen yang telah dimilikinya sebagai pembangun bangsa yang utuh.

Berbicara perihal kebudayaan, sebuah negara selayaknya memiliki rancangan besar strategi kebudayaan. Sayangnya, meski sudah berbusa mulut para orator budaya untuk mengingatkan para pamong, tetap saja negara ini terbilang gagal mengayomi budayanya sendiri. Saya pernah membaca teks luar biasa Hikmat Darmawan bahwa bangsa ini harus membangun kisahnya [yang bahkan negarawan sebodoh George W. Bush menyadarinya]. Saya pernah lagi teringat masalah ini ketika M. Dawam Rahardjo sekali lagi mengingatkan pentingnya strategi kebudayaan dalam orasi kebudayaan di Orasi Budaya yang diselenggarakan oleh Galeri Publik (Institute For Global Justice), di Jakarta, pada tanggal 26 Juli 2007. Tapi lalu apa yang kita saksikan? Birokrat bermental dagang dan haus kekuasaan jangka-pendek. Semakin banyak orang yang hanya peduli pada urusan perut dan di bawah perut, tanpa mau mengingat yang di atas perut dan di atas leher. Jangan semata salahkan Singapura, Malaysia dan Thailand kalau mereka diam-diam merampas dan mengembangkan elemen-elemen asli budaya kita. Kalaupun ada semacam usaha mengayomi budaya, yang kita lihat ternyata parade pamer diri yang justru semakin memalukan, dan beraroma blunder. Apa kata dunia ketika ternyata wajah film-film Indonesia di Cannes diurusi para istri pejabat yang bahkan tidak tahu apa arti "box office"?

Berlalu pula masa ketika birokrat dan budayawan bisa menyadari posisi masing-masing dengan rendah hati. Ketika meresmikan Taman Ismail Marzuki, Gubernur DKi masa itu, Ali Sadikin, mengakui bahwa sebagai birokrat ia tidak paham seni. Namun dengan rendah hati ia menyadari pula pentingnya seni dan kebudayaan bagi perkembangan dan survival sebuah bangsa. Ah. Sebuah sikap yang kini langka. Kapankah akan tercipta lagi ruang gerak bagi birokrat dan budayawan untuk saling mengerti? Kapan ruang gerak itu akan terbebas dari ego mereka yang menggelembung menyesakkan? Sementara itu, budaya suku-suku yang membangun Indonesia dan dinamikanya tetap terpinggirkan sebagai kaum pariah dalam wacana penyelenggaraan negara.

Lalu, apakah Agni dengan mengenakan busana Dayak telah mengharumkan nama bangsa lewat penampilannya? Dengan apa yang terjadi di balik layar, maka saya takut bahwa wajah Agni dengan kostum Dayaknya hanya menjadi representasi yang pucat lagi banal tentang negeri ini. Tidak heran.

© Adrian Syah 2007

[tulisan ini saya persembahkan untuk Indonesia di ulang tahunnya, dan bagi EPC, yang telah merasakan menjadi sripanggung gemerlap kontes kecantikan. Apa kabar, sobat?]

Lanjut...

13 August 2007

That's why I like Mark Twain


I'm not [legally] a Jakartans. Thus I don't vote. But even if I am, I feel apoltical these days. And I found this witty-remark from one of my favourite authors:

"If voting made any difference they wouldn't let us do it."
[Mark Twain]


That's a good one, Mr. Clemens. And for Mr. Bowo: selamat 'bekerja'.

***

Lanjut...

07 August 2007

>> Dagelan Bangsa dalam 3 Stanza <<

[Stanza Uno]
Tersebutlah seorang selebriti
serasa pakar ia menyebut diri
Raden Roy Suryo namanya
mengaku menemukan Indonesia Raya

Dari perpustakaan Leiden Belanda
Padahal dari YouTube ia mengunduh[1]
Katakanlah padaku pakar telematika
di dunia maya siapa memuat lebih dulu

Tersebutlah sekelompok cendekia
Tim Air Putih namanya
Kabar berita tuan Raden menyelia
Padahal simpatisan belaka[2]

Bagaikan para penemu dunia baru
padahal ada yang tinggal sejak dulu
atau bila Edison kehilangan bola lampu
lalu seseorang mengaku sebagai penemu

[Stanza Due]
Tersebutlah seorang pejuang warta
yang dihormati lagi dikagumi
Bapak Des Alwi punya nama
nyatanya beliau empunya lagi punya bukti[3]

Wahai tuan Raden jadi belingsatan
menuduh pejuang punya mau keparat[4]
kenapa tuan Raden jadi berangasan
apa memang maunya menjilat

Dulu pejuang merelakan rekam rupa-rungu
untuk diemong para pamong praja
sayang para pamong teramat dungu
rekam rupa-rungu menguap begitu saja[5]

Para pamong terkini bikin malu
Indonesia Raya lama mengaku tidak tahu
apa guna punya di negara punya tahta
kalau yang di kepala cuma harta


[Stanza Tre]

Langgam usang dunia warta
angguk-angguk tuan Raden punya kata
padahal cuma mau jual diri
dunia warta bisa jual sensasi

Ingat-ingat ajaran bu guru
di mata pelajaran menyanyi
ingat-ingat kami buka buku[6]
ternyata 3 stanza memang basi

Wahai bangsa kerdil lupa diri
Lupa akan semua cerita diri
Yang sudah dianggap tidak usah
Jati diri dianggap tidak basah

Demikian dagelan bangsa amit
yang kalah lucu dari Srimulat
maunya cuma mainan dedemit
dan mainan orang keparat


***

Cukup. Dagelan tidak lucu nan menjijikkan ini harus segera diakhiri. Bagaimana mungkin pembodohan/kebohongan massal sejenis ini bisa dibiarkan melenggang begitu saja? Masalahnya, yang dibohongi baru tahu belakangan bahwa mereka dibohongi. Tidak, ini tidak sepenuhnya salah sang Raden, tentunya. Ini adalah ramuan-sempurna-dengan-kadar-pas dari tiga bahan utama:

  • Seorang selebriti yang merasa diri ahli, haus akan popularitas.
  • Segerombolan nyamuk media yang haus sensasi.
  • Khalayak [publik, pejabat, dan termasuk saya sendiri] yang buta budaya.

Semuanya diaduk dalam satu adonan, menciptakan teater menggelikan bangsa pelupa lagi alpa.

Baiklah, tentunya tidak semua orang punya beban untuk mengetahui sejarah negeri sendiri, bukan? Sayangnya, yang berwenang untuk itu sangat berkompeten untuk tidak melakukannya. Bukan berarti tidak ada segi positif dari kejadian ini. Kita semua seolah dipaksa lagi untuk ingat bahwa lagu kebangsaan kita memang aslinya terdiri dari 3 stanza, dan bahwa ada peraturan yang mengaturnya, dan bahwa…, dan bahwa…, dan lain-lain. Hanya saja, semua itu harus terungkap lewat akrobatik ketololan yang dihiasi klaim-klaim “keaslian”, “kebaruan”, retorika “milik negara” yang motivasinya dipertanyakan, sampai tendensi adanya karakter asinan [character assassination] kepada tim Air Putih [“…tukang kebun!”] dan –bisa-bisanya– ke Des Alwi sendiri.

Saya teringat menonton JiFFest dua tahun yang lalu dalam sebuah sesi berjudul From the Cabinet of Des Alwi. Sehabis menyaksikan pemutaran dokumentasi lawas, Bapak Des Alwi sendiri tampil di depan kami semua sebagai pembicara. Beliau menyampaikan bahwa potongan-potongan klip itu memang kebanyakan tidak bias bercerita sendiri. Banyak yang harus disertai kisah tambahan untuk memperjelas konteksnya. Dan sejauh ini hanya beliau yang mengingat konteks masing-masing klip. Astaga. Saat itu juga, tiba-tiba saya merasa ngeri: bagaimana kalau beliau sudah tiada nanti? Akan lenyap semua kisah di balik dokumentasi berharga itu. Kenapa tidak dikatalogisasi dan dirapikan pengarsipannya? Ha. Apakah kita masih tega mengharapkan lebih dari Bapak Des Alwi ini, yang sudah sebagai single-fighter menjaga klip-klip itu? Yang sudah berperan bagai H.B. Jassin-nya dunia audio visual?

Nah, cukup mengutuk. Apa yang bisa dilakukan? Dukung setiap perjuangan untuk melawan amnesia sejarah. Salah satunya, yang akan dengan senang hati kulakukan, adalah mendukung perjuangan Sinematek Indonesia untuk merawat semua peninggalan audio-visual perfilman Indonesia, dengan tema Menolak Hilang Ingatan. Hmm, betul sekali...

Dan kenapa juga arsip-arsip sepenting ini harus dijaga oleh inisiatif segelintir pejuang berdedikasi tinggi? Apa? Pemerintah? No comment ah...

***

[1] Kabar terakhir menyebutkan bahwa yth. KRMT RS bukan mengunduh dari YouTube, tapi bahkan mengkopi dari harddisk anggota Air Putih.
[2] Muncul klarifikasi dari Tim Air Putih sehubungan dengan pemberitaan media bahwa RS memimpin tim mereka.
[3] Klarifikasi Des Alwi di Metro TV
[4] Semoga bukan gejala character assassination.
[5] Memang sulit mengharap dari pengurus negeri ini.
[6] Dalam sebuah forum, seorang user bernama boo mengkonfirmasi dugaan lawas saya tentang buku kumpulan lagu wajib yang memang berisi 3 stanza sejak lama, antara lain (dikutip sesuai aslinya)

  • Indonesia Persadaku, penyusun W.S. Simajuntak, th terbit cetakan pertama 1984 , kode buku TT. 0016.02.1984 (Februari 1984?) terbitan Titik Terang hal 9 utk yg teks yg diketahui scr umum, hal 10 utk 2 stanza yg laen (cover warna hijau tua, kayanya ini yg umum dipake)
  • Cintaku Negeriku, Kumpulan Lagu Wajib dan Perjuangan, penyusun DS. Soewito M, th terbit gak jelas, cuma ada kode buku : T.T. 0102.04.94 (April ‘94 kah?) terbitan Titik Terang hal 9-12 utk yg teks yg diketahui scr umum, hal 12 utk 2 stanza yg laen (dua edisi, satu edisi cover warna kuning telur, edisi yg lain cover warna biru)
  • Lagu Nasional dan Lagu Daerah, penyusun Joko Susilo, th terbit gak ada, penerbit gak ada hal 3 utk yg teks yg diketahui scr umum, hal 3 utk 2 stanza yg laen


Teriring terima kasih untuk blogger-blogger lain yang turut menyumbang info: ryosaeba, ndorokakung.

Lanjut...